Diantara hikmah Allah SWT dalam ilmu yang tidak diberikan kepada manusia adalah pengetahuan tentang datangnya kiamat dan ajal. Hikmah dalam hal itu amatjelas, tidak membutuhkan perenungan. Kalau manusia tahu berapa usianya, bilausianya pendek, dia tidak dapat menikmati hidup. Bagaimana hidupnya nikmat biladia selalu menunggu-nunggu mati pada waktu yang telah ditentukan itu. Kalaulahbukan karena cita-cita yang tinggi (thuulul 'amal), tentu dunia sudah porak poranda.Makmurnya dunia adalah karena ada cita-cita. Tapi jika dia tahu umurnya panjang,dia tidak peduli tenggelam di dalam nafsu syahwat, kemaksiatan, dan berbagaikerusakan. Dia akan berkata bila ajalnya telah dekat, "Aku bertobat."Cara berpikir seperti ini tidak diridhai dan diterima oleh Allah SWT, dan keadaandunia jadi tidak baik. Alam tidak akan baik kecuali dengan pengaturan seperti yangada sekarang ini—yang telah selaras dengan hikmah-Nya. Kalau salah satu budakmuselama bertahun-tahun melakukan perbuatan yang membuatmu- marah lalu diamenyenangkanmu sesaat karena telah yakin kalau dirinya pasti kembali kepadamu,tentu kamu tidak menerimanya, dan pasti dia tidak mendapatkan apa yang didapatoleh budakmu yang lain, yang selalu mengharap mendapat ridhamu. Demikianlahsunnatullah berlaku, bahwa jika manusia telah menemui ajalnya, maka taobat (saatitu) tidak berguna. Allah SWT berfirman,"Dan tidaklah taobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakankejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka,(barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertaobat sekarang. "'(an-Nisaa":18)"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanyakepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kamipersekutukan dengan Allah.' Maka iman mereka tiada berguna bagi merekatatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlakuterhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir."(Ghaafir: 84-85) Allah SWT hanya mengampuni dosa seorang hamba apabila dia melakukan dosakarena kuatnya dorongan syahwat dan insting. Pada saat seperti ini, dia melakukandosa tersebut, tapi dengan perasaan tidak menyukainya dan tanpa ada keinginanuntuk terus. Orang seperti ini ada harapan untuk mendapat ampunan Allah SWTkarena Dia tahu akan kelemahannya dan keunggulan syahwatnya. Juga karena setiapwaktu dia melihat hal-hal yang menyebabkannya tidak dapat menahan diri untukberbuat dosa. Apabila dia melakukan dosa, dia tetap sebagai orang yang lemah dantunduk serta takut kepada Tuhannya. Di dalam dada orang ini terjadi peperanganantara nafsu syahwat dan perasaan benci ketika melakukannya. Sesekali diamemenuhi dorongan nafsunya, dan seringkali dia memenuhi dorongan iman. Adapun orang yang sudah berniat di dalam dirinya untuk tidak berhenti berbuatdosa, tidak punya rasa takut, tidak meninggalkan suatu syahwat karena takut kepadaAllah SWT, dia tertawa gembira bila melakukan dosa, maka orang seperti inilahyang dikhawatirkan terhalang dan tidak diberi kesempatan (oleh-Nya) untukbertaobat. Terhadap dosa dan maksiat dia cepat melakukan, tapi kepada taobat kepadaNya dia menangguh-nangguhkan sampai datang ajal menjemput.Kebanyakan orang seperti ini tidak bisa bertaobat, karena meninggalkankelezatan syahwat dan terus menerus melawan dorongan nafsu adalah sulit danberat, lebih berat daripada gunung. Apalagi bila ditambah dengan lemahnya bashirah
dan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarang
dengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari mereka
ketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinar
besok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarin
lusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,
kecuali bila Allah SWT menghendaki.
Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatan
tubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itu
menjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,
seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,
"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."
Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat dengan
maksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yang
melebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulah
seterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaan
seperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawa
kotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.
Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!
Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnya
diterima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukan
apa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yang
lebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampai
hartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang itu
akan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahu
siapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamat
ketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, maka
akan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.
Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasa
mengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak maudan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarangdengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari merekaketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinarbesok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarinlusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,kecuali bila Allah SWT menghendaki.Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatantubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itumenjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat denganmaksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yangmelebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulahseterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaanseperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawakotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnyaditerima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukanapa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yanglebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampaihartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang ituakan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahusiapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamatketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, makaakan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasamengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak mau
dan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarangdengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari merekaketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinarbesok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarinlusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,kecuali bila Allah SWT menghendaki.Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatantubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itumenjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat denganmaksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yangmelebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulahseterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaanseperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawakotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnyaditerima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukanapa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yanglebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampaihartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang ituakan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahusiapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamatketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, makaakan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasamengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak mau melakukan apa yang merugikan dirinya di saat dia dibangkitkan. Orang seperti ini
bekerja keras melakukan apa yang bermanfaat dan membuatnya gembira pada saat
berjumpa dengan Allah SWT.
Bila kamu bertanya, "Lihatlah orang ini! Meski kadar ajalnya tidak diberitahukan
kepadanya dan setiap waktu dia mengingat mati, dia masih saja melakukan maksiat
dan berbuat hal yang terkutuk. Mengapa ajalnya tidak diberitahukan kepadanya saja?"
Jawabnya, sungguh benar demikian. Itu memang masalah yang membingungkan
para ulama dalam menafsirkannya. Mereka pecah menjadi beberapa kelompok.
Sekelompok orang mengingkari/menolak adanya hikmah dan sama sekali tidak
mencari 'illah (sebab) dari perbuatan-perbuatan Tuhan. Mereka percaya kepada
jabr (paksaan) mutlak. Mereka menutup diri. Mereka mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan Tuhan tidak perlu diketahui 'illah-nya dan tidak ditujukan
untuk menciptakan maslahat manusia. Sumber segala perbuatan itu semata-mata
adalah kehendak dan kemauan Tuhan. Mereka mengingkari adanya hikmah Allah SWT
dalam perintah dan larangan-Nya.
Kelompok lain menolak qadar sama sekali. Mereka mengklaim bahwa perbuatanperbuatan hamba tidak diciptakan oleh Allah SWT sehingga perlu dicarikan apa
hikmah-Nya. Perbuatan-perbuatan itu hanya karya cipta mereka sendiri, terjadi
karena kebodohan, kezaliman dan kelemahan mereka. Tidak terjadi berdasarkan
buah pikiran yang matang, kecuali sebagian kecil saja.
Kedua kelompok ini seratus delapan puluh derajat bertentangan. Yang pertama
berlebihan dalam meyakini jabr (paksaan) dan mengingkari adanya hikmah dalam
perbuatan Allah SWT. Kelompok kedua keterlaluan dalam menerapkan konsep qadar.
Mereka mengeluarkan banyak peristiwa—kalau tidak kebanyakannya—dari
kekuasaan dan qudrah Tuhan. Tapi, Allah SWT menunjukkan Ahli Sunnah yang wasath
(pertengahan) kepada kebenaran dalam persoalan yang mereka perselisihkan.
Mereka mengakui kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Menurut mereka tidak
mungkin di alam semesta ini ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya atau
sesuatu yang Dia kehendaki tapi tidak terwujud. Penghuni langit maupun bumi ini
terlalu lemah untuk menciptakan apa yang tidak diciptakan oleh Allah SWT atau
mengerjakan apa yang tidak dikehendaki-Nya. Apa yang dikehendaki Allah SWT
akan ada; dan wujudnya ada akibat Dia menghendakinya. Begitu juga sebaliknya.
Apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan ada; wujudnya tidak ada karena Dia
tidak menghendakinya. Tidak ada kekuatan dan daya upaya melainkan dengan-Nya.
Tidak ada satu partikel pun yang bergerak di angkasa dan dasar bumi melainkan
dengan izin-Nya.
Meskipun begitu, dalam segala hal yang diciptakan, ditakdirkan, dan
disyariatkan-Nya, Dia punya hikmah yang selaras dengan kesempurnaan hikmah
dan ilmu-Nya. Dialah Tuhan Yang Maha berhikmah dan Maha Tahu. Dia tidak
mencipta, menakdirkan, dan mensyariatkan sesuatu pun tanpa hikmah meski hikmah
itu sendiri seringkali tidak terjangkau oleh akal manusia yang dangkal ini. Dia adalah
Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa. Hikmah-Nya tidak mungkin diingkari,
sebagaimana qudrah-Nya tidak dapat dipungkiri.
Kelompok pertama mengingkari hikmah, sedang yang kedua mengingkari
qudrah. Adapun umat wasath mengimani bahwa Allah punya hikmah dan qudrah
yang sempurna. Kelompok pertama melihat maksiat sebagai semata-mata kehendak
dan penciptaan-Nya yang tidak mengandung hikmah, bahkan mungkin mereka
memandangnya sebagai jabr (paksaan) dari pihak Tuhan, sehingga gerakan manusia
seperti gerakan pohon-pohon dan sejenisnya. Kelompok kedua melihat maksiat
sebagai semata-mata perbuatan yang dilakukan manusia dengan ikhtiar. Dialah yang
berkehendak melakukannya, tanpa kehendak Tuhan. Sedang umat wasath mengimani
bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Perkasa, kehendak-Nya pasti terlaksana. Tapi
di samping itu, juga mengakui adanya perbuatan dan ikhtiar dari pihak manusia itu
sendiri dan bahwa dia lebih mementingkan syahwat pribadi daripada ridha Tuhannya.
Pengakuan terhadap hal pertama tadi mengarahkan manusia untuk bermohon
kepada Tuhannya, tunduk dan tadharru' (patuh) kepada-Nya agar diberi taufik dalam
ketaatan dan menghindarkannya dari maksiat juga diteguhkan dalam memeluk
agama-Nya. Sedang pengakuan terhadap hakikat kedua menyebabkan pengakuan
terhadap dosa, dan bahwa dirinyalah yang zalim, yang pantas dan berhak disiksa.
Juga menyucikan Tuhan dari sifat zalim atau supaya tidak menyalahkan-Nya atas
dosa yang tidak diperbuat-Nya. Dari kedua pengakuan terhadap dua hakikat itu
tergabunglah pada diri manusia pengakuan keesaan (tauhid), keadilan, dan hikmahNya.
Dalam kitab al-Futuuhaat al-Qudsiyyah telah kami sebutkan cara pandang
manusia perihal perbuatan dosa yang semuanya bermuara pada delapan pandangan.
Pertama, cara pandang hewani; pandangan orang seperti ini terbatas pada
syahwat dan kesenangannya saja. Dalam cara pandang ini dia sama dengan seluruh
hewan, bahkan mungkin ia bersenang-senang melebihi hewan.
Kedua, cara pandang jabr yang melakukan dosa dan menggerakkannya bukan
diri orang itu sendiri; dia tidak memikul dosa. Ini adalah cara pandang kaum musyrikin
dan musuh-musuh para rasul.
Ketiga, cara pandang qadar bahwa orang itulah yang menciptakan dan
mengadakan perbuatannya tanpa intervensi kehendak Allah SWT. Ini adalah mazhab
qadariyyah, terpengaruh aliran Majusi.
Keempat, cara pandang para pemilik ilmu dan iman: cara pandang qadar dan
syara', yakni mengakui adanya perbuatan dari pihak orang itu dan qadha/qadar dari
Allah SWT seperti dijelaskan sebelumnya.
Kelima, cara pandang kemiskinan dan kelemahan. Kalau Allah SWT tidak
menolongnya, memberinya taufik, dan tidak meneguhkannya tentu dia binasa.
Perbedaan antara cara pandang ini dengan cara pandang jabariyyah jelas.
Keenam, cara pandang tauhid: mengakui bahwa hanya Allah SWT yang mencipta
dan pasti terwujud kehendak-Nya, dan bahwa makhluk terlalu lemah untuk Allah SWT dan sama sekali tidak timbul dari kehendak-Nya? Bagaimana akan mencari
atau mengakui adanya hikmah apabila ia adalah seseorang yang mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan itu adalah ciptaan Allah SWT tetapi perbuatan-perbuatan-Nya
tidak mengandung hikmah dan tidak dimasuki oleh laam ta'liil? Kalaupun dijumpai,
dia diartikan menjadi laam 'aaqibah, tidak sebagai laam Hllah danghaayah. Tapi bila
ada huruf bav masuk dalam perbuatan-perbuatan-Nya, maka ia diartikan sebagai
bav mushaahabah, bukan sebagai ba" sababiyyah. Apabila kalangan mutakallimin
(teolog) menurut masyarakat adalah mereka yang dari kedua kelompok ini, maka
masyarakat itu tidak melihat kebenaran keluar dari mereka.
Kemudian banyak ulama yang terhormat terheran-heran bila memperhatikan
pendapat mereka yang salah dan tidak tahu ke mana dia pergi. Ketika buku-buku
filsafat diterjemahkan ke bahasa Arab, banyak orang melihat pendapat-pendapat
mutakallimin yang lemah. Mereka mengatakan bahwa pendapatnya itulah ajaran
para rasul. Mereka menyeberangi jembatan dan melompat ke daratan. Semua itu
adalah kebodohan yang jelek dan persangkaan yang rusak bahwa kebenaran tidak
keluar dari pendapat mereka, padahal alangkah banyak pendapat mereka yang
menyalahi kebenaran. Alangkah sering dalam masalah-masalah yang sebenarnya
sudah benar, mereka mengungkapkan pendapat yang kontra dengan kebenaran.
Yang ingin kita tegaskan di sini, bahwa seandainya para mutakallimin sepakat
(ijma') atas sesuatu, ijma' mereka itu tidak jadi hujjah menurut ulama manapun.
Apalagi bila mereka berselisih pendapat.
Tujuan utama dari pembahasan ini bahwa musyaahadah (menyaksikan,
mengakui) hikmah Allah SWT dalam qadha dan qadar-Nya terhadap hamba-hambaNya berdasarkan pilihan dan kehendak mereka sendiri. Ini merupakan hal paling
rumit dan samar yang diperbincangkan manusia. Dalam hal itu terdapat hikmahhikmah yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu.
Kami akan menyinggung sebagiannya. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Hikmah Pertama. Dia mencintai orang-orang yang bertaobat. Saking cintanya,
Dia gembira dengan tobat mereka. Kegembiraan Tuhan ketika mendapati seorang
hamba yang bertobat lebih besar daripada kegembiraan seseorang yang menemukan
kembali unta tunggangannya yang membawa makanan dan minuman, ketika unta
itu hilang di sebuah padang pasir—sementara ia sudah putus asa mencari-carinya.
Tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari kegembiraan orang seperti ini. (Insya
Allah SWT akan kami jelaskan hal ini lebih dalam sebentar lagi.)
Kalau bukan karena cinta yang luar biasa kepada tobat dan orang-orang yang
bertaobat, kegembiraan ini tidak terjadi. Kita maklum bahwa mustahil ada akibat
tanpa ada sebabnya. Adakah tujuan tanpa sarananya? Tentu tidak ada! Inilah makna
perkataan seorang arif, "Seandainya tobat bukan sesuatu yang paling dicintai-Nya,
tentu Dia tidak menguji makhluk yang paling mulia di sisi-Nya (para nabi) dengan
dosa." Jadi, tobat adalah kesempurnaan paling tinggi bagi setiap manusia. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
Hikmah Kedua. Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya. Karena Dia begitu
senang memberi karunia dan nikmat, maka Dia memperbanyak variasinya, baik dalam
bentuk nikmat lahir maupun batin. Di antara kebaikan dan kemurahan-Nya adalah,
Dia berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, memaafkan orang yang berbuat
zalim, mengampuni orang yang berbuat dosa, dan menerima taobat orang yang
bertaobat. Dia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan terpuji
dan etika yang utama ini, dan tentu Dia lebih patut melakukannya daripada mereka.
Dalam memasang sebab-sebabnya, Dia punya hikmah yang mencengangkan akal
manusia. Subhanallah.
Seorang arif menuturkan pengalamannya, "Pada suatu malam nan gelap gulita
dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa
puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah
aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan,
'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
Hikmah Kedua. Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya. Karena Dia begitu
senang memberi karunia dan nikmat, maka Dia memperbanyak variasinya, baik dalam
bentuk nikmat lahir maupun batin. Di antara kebaikan dan kemurahan-Nya adalah,
Dia berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, memaafkan orang yang berbuat
zalim, mengampuni orang yang berbuat dosa, dan menerima taobat orang yang
bertaobat. Dia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan terpuji
dan etika yang utama ini, dan tentu Dia lebih patut melakukannya daripada mereka.
Dalam memasang sebab-sebabnya, Dia punya hikmah yang mencengangkan akal
manusia. Subhanallah.
Seorang arif menuturkan pengalamannya, "Pada suatu malam nan gelap gulita
dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa
puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah
aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan,
'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
EmoticonEmoticon