Rabu, 14 November 2018

Tuhan Menciptakan Segala Sesuatu dengan Sangat Pas


salam, kembali saya akan memposting sebuah tulisan karya ibnu qayyim al jauziyah.
Tuhan Menciptakan Segala Sesuatu dengan Sangat Pas
Perhatikanlah hikmah Dia menciptakan hewan pemakan daging. Hewan ini
memiliki gigi-gigi yang tajam, kuku-kuku yang kuat, rahang dan mulut yang lebar,
dibantu dengan senjata-senjata dan sarana-sarana berburu. Anda lihat burung-burung
buas punya paruh yang tajam dan cakar yang kuat. Oleh sebab itu, Nabi saw.
mengharamkan setiap hewan buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam256.
Karena, hewan ini berbahaya dan ganas terhadap manusia; dan yang memakan mirip
dengan yang dimakan. Kalau manusia mengkonsumsinya, tentu akan tertular akhlak
dan sifatnya yang jahat/liar. Karena itulah, beliau mengharamkannya. Tapi beliau
tidak mengharamkan adh-dhab' (sejenis biawak) meski hewan ini bertaring, karena
dia tidak tergolong hewan buas dalam pandangan bangsa manapun.
Jadi, pengharaman itu hanya mencakup hewan yarig mengandung kedua kriteria
ini: bertaring dan buas. Dan, tak bisa dikatakan bahwa kaedah ini tidak mencakup
hewan buas yang tidak bertaring, karena hewan seperti itu tidak ada sama sekali.
Maka, shalawat dan salam kita ucapkan ke hadirat Rasul yang dikaruniai jawaami'ul
kalim dan menjelaskan hukum halal dan haram.
Lihatlah hikmah Allah SWT dalam khalq 'ciptaan' dan amr 'perintah' serta
larangan dalam syariat-Nya. Anda mendapati semuanya bersumber pada hikmah
yang luar biasa yang sistemnya tidak pernah salah. Sebagian orang ada yang
mengetahui hikmah amr lebih banyak dari pengetahuannya tentang hikmah khalq.
Mereka ini adalah manusia khawaash, yang memahami perintah dan agama Allah
SWT, mengerti hikmah-Nya ketika mensyariatkan hukum.' Fitrah dan akal mereka
mengakui bahwa itu bersumber pada hikmah yang luar biasa dan maslahat yang ingin
diwujudkan untuk umat manusia dalam kehidupan dunia-akhirat. Dalam hal ini, mereka
ada beberapa derajat, hanya Allah SWT yang tahu.
Sebagian lagi ada yang pengetahuannya tentang hikmah khalq lebih banyak
daripada pengetahuannya tentang hikmah amr. Mayoritas tabib termasuk kelompok
ini. Mereka memusatkan perhatian dan pikiran mereka untuk menggali manfaat
tanaman dan hewan, kekuatannya, dan khasiatnya. Mereka hanya mengerti hikmah
amr sebanyak hikmah khalq yang diketahui para fukaha, bahkan lebih sedikit.
Sebagian lagi ada yang mendapat taufik, sehingga mengerti hikmah khalq dan
amr sekaligus sesuai dengan potensi dan kekuatannya. Karenanya, dia bisa melihat
hikmah yang menakjubkan akal dalam kedua hal ini. Apabila dia melihat ciptaan-Nya
dan memperhatikan hikmahnya, keimanan mereka terhadap ajaran yang dibawa para
rasul bertambah. Apabila dia merenungkan perintah dan syariat-Nya serta hikmah di dalamnya, iman dan keyakinan serta penyerahan dirinya meningkat. la tidak seperti
orang yang terhijab mata hatinya gara-gara menyaksikan ciptaan sehingga tidak
mengakui adanya sang pencipta. Kalau saja dia memberi ilmu haknya yang layak,
tentu dia adalah orang yang paling kuat imannya. Karena, dia menyaksikan ayat dan
ciptaan Allah SWT yang menjadi bukti wujud-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan dan hikmahNya, yang tidak disaksikan orang lain.
Akan tetapi, ada hikmahnya juga kalau Allah SWT menghijab sebagian besar
akal mereka ini, sehingga tidak mengenal-Nya, dan hanya memberi mereka
pengetahuan tentang zahir kehidupan dunia dan mereka lalai dari kehidupan akhirat.
Hikmah-Nya adalah karena akal-akal mereka hina, rendah, dan tidak layak mendapat
makrifat mengenal tentang Tuhan, mengetahui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan
rahasia agama-Nya. Karunia itu di tangan Allah SWT, diberikan-Nya kepada siapa
yang dikehendaki. Allahlah pemilik karunia yang luar biasa.
Pengetahuan manusia tentang hal ini tidak ada apa-apanya dibanding yang tidak
mereka ketahui. Ilmu orang-orang dahulu dan sekarang seperti setetes air di lautan.
Meski demikian, itu tidak boleh menyebabkan orang mengabaikannya dan putus
asa. Orang berakal dapat menjadikan sesuatu yang tampak olehnya sebagai dalil
atas yang tersembunyi.


EmoticonEmoticon