Diantara hikmah Allah SWT dalam ilmu yang tidak diberikan kepada manusia adalah pengetahuan tentang datangnya kiamat dan ajal. Hikmah dalam hal itu amatjelas, tidak membutuhkan perenungan. Kalau manusia tahu berapa usianya, bilausianya pendek, dia tidak dapat menikmati hidup. Bagaimana hidupnya nikmat biladia selalu menunggu-nunggu mati pada waktu yang telah ditentukan itu. Kalaulahbukan karena cita-cita yang tinggi (thuulul 'amal), tentu dunia sudah porak poranda.Makmurnya dunia adalah karena ada cita-cita. Tapi jika dia tahu umurnya panjang,dia tidak peduli tenggelam di dalam nafsu syahwat, kemaksiatan, dan berbagaikerusakan. Dia akan berkata bila ajalnya telah dekat, "Aku bertobat."Cara berpikir seperti ini tidak diridhai dan diterima oleh Allah SWT, dan keadaandunia jadi tidak baik. Alam tidak akan baik kecuali dengan pengaturan seperti yangada sekarang ini—yang telah selaras dengan hikmah-Nya. Kalau salah satu budakmuselama bertahun-tahun melakukan perbuatan yang membuatmu- marah lalu diamenyenangkanmu sesaat karena telah yakin kalau dirinya pasti kembali kepadamu,tentu kamu tidak menerimanya, dan pasti dia tidak mendapatkan apa yang didapatoleh budakmu yang lain, yang selalu mengharap mendapat ridhamu. Demikianlahsunnatullah berlaku, bahwa jika manusia telah menemui ajalnya, maka taobat (saatitu) tidak berguna. Allah SWT berfirman,"Dan tidaklah taobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakankejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka,(barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertaobat sekarang. "'(an-Nisaa":18)"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanyakepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kamipersekutukan dengan Allah.' Maka iman mereka tiada berguna bagi merekatatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlakuterhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir."(Ghaafir: 84-85) Allah SWT hanya mengampuni dosa seorang hamba apabila dia melakukan dosakarena kuatnya dorongan syahwat dan insting. Pada saat seperti ini, dia melakukandosa tersebut, tapi dengan perasaan tidak menyukainya dan tanpa ada keinginanuntuk terus. Orang seperti ini ada harapan untuk mendapat ampunan Allah SWTkarena Dia tahu akan kelemahannya dan keunggulan syahwatnya. Juga karena setiapwaktu dia melihat hal-hal yang menyebabkannya tidak dapat menahan diri untukberbuat dosa. Apabila dia melakukan dosa, dia tetap sebagai orang yang lemah dantunduk serta takut kepada Tuhannya. Di dalam dada orang ini terjadi peperanganantara nafsu syahwat dan perasaan benci ketika melakukannya. Sesekali diamemenuhi dorongan nafsunya, dan seringkali dia memenuhi dorongan iman. Adapun orang yang sudah berniat di dalam dirinya untuk tidak berhenti berbuatdosa, tidak punya rasa takut, tidak meninggalkan suatu syahwat karena takut kepadaAllah SWT, dia tertawa gembira bila melakukan dosa, maka orang seperti inilahyang dikhawatirkan terhalang dan tidak diberi kesempatan (oleh-Nya) untukbertaobat. Terhadap dosa dan maksiat dia cepat melakukan, tapi kepada taobat kepadaNya dia menangguh-nangguhkan sampai datang ajal menjemput.Kebanyakan orang seperti ini tidak bisa bertaobat, karena meninggalkankelezatan syahwat dan terus menerus melawan dorongan nafsu adalah sulit danberat, lebih berat daripada gunung. Apalagi bila ditambah dengan lemahnya bashirah
dan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarang
dengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari mereka
ketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinar
besok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarin
lusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,
kecuali bila Allah SWT menghendaki.
Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatan
tubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itu
menjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,
seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,
"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."
Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat dengan
maksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yang
melebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulah
seterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaan
seperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawa
kotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.
Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!
Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnya
diterima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukan
apa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yang
lebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampai
hartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang itu
akan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahu
siapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamat
ketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, maka
akan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.
Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasa
mengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak maudan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarangdengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari merekaketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinarbesok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarinlusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,kecuali bila Allah SWT menghendaki.Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatantubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itumenjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat denganmaksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yangmelebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulahseterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaanseperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawakotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnyaditerima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukanapa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yanglebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampaihartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang ituakan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahusiapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamatketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, makaakan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasamengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak mau
dan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarangdengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari merekaketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinarbesok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarinlusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,kecuali bila Allah SWT menghendaki.Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatantubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itumenjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat denganmaksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yangmelebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulahseterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaanseperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawakotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnyaditerima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukanapa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yanglebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampaihartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang ituakan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahusiapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamatketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, makaakan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasamengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak mau melakukan apa yang merugikan dirinya di saat dia dibangkitkan. Orang seperti ini
bekerja keras melakukan apa yang bermanfaat dan membuatnya gembira pada saat
berjumpa dengan Allah SWT.
Bila kamu bertanya, "Lihatlah orang ini! Meski kadar ajalnya tidak diberitahukan
kepadanya dan setiap waktu dia mengingat mati, dia masih saja melakukan maksiat
dan berbuat hal yang terkutuk. Mengapa ajalnya tidak diberitahukan kepadanya saja?"
Jawabnya, sungguh benar demikian. Itu memang masalah yang membingungkan
para ulama dalam menafsirkannya. Mereka pecah menjadi beberapa kelompok.
Sekelompok orang mengingkari/menolak adanya hikmah dan sama sekali tidak
mencari 'illah (sebab) dari perbuatan-perbuatan Tuhan. Mereka percaya kepada
jabr (paksaan) mutlak. Mereka menutup diri. Mereka mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan Tuhan tidak perlu diketahui 'illah-nya dan tidak ditujukan
untuk menciptakan maslahat manusia. Sumber segala perbuatan itu semata-mata
adalah kehendak dan kemauan Tuhan. Mereka mengingkari adanya hikmah Allah SWT
dalam perintah dan larangan-Nya.
Kelompok lain menolak qadar sama sekali. Mereka mengklaim bahwa perbuatanperbuatan hamba tidak diciptakan oleh Allah SWT sehingga perlu dicarikan apa
hikmah-Nya. Perbuatan-perbuatan itu hanya karya cipta mereka sendiri, terjadi
karena kebodohan, kezaliman dan kelemahan mereka. Tidak terjadi berdasarkan
buah pikiran yang matang, kecuali sebagian kecil saja.
Kedua kelompok ini seratus delapan puluh derajat bertentangan. Yang pertama
berlebihan dalam meyakini jabr (paksaan) dan mengingkari adanya hikmah dalam
perbuatan Allah SWT. Kelompok kedua keterlaluan dalam menerapkan konsep qadar.
Mereka mengeluarkan banyak peristiwa—kalau tidak kebanyakannya—dari
kekuasaan dan qudrah Tuhan. Tapi, Allah SWT menunjukkan Ahli Sunnah yang wasath
(pertengahan) kepada kebenaran dalam persoalan yang mereka perselisihkan.
Mereka mengakui kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Menurut mereka tidak
mungkin di alam semesta ini ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya atau
sesuatu yang Dia kehendaki tapi tidak terwujud. Penghuni langit maupun bumi ini
terlalu lemah untuk menciptakan apa yang tidak diciptakan oleh Allah SWT atau
mengerjakan apa yang tidak dikehendaki-Nya. Apa yang dikehendaki Allah SWT
akan ada; dan wujudnya ada akibat Dia menghendakinya. Begitu juga sebaliknya.
Apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan ada; wujudnya tidak ada karena Dia
tidak menghendakinya. Tidak ada kekuatan dan daya upaya melainkan dengan-Nya.
Tidak ada satu partikel pun yang bergerak di angkasa dan dasar bumi melainkan
dengan izin-Nya.
Meskipun begitu, dalam segala hal yang diciptakan, ditakdirkan, dan
disyariatkan-Nya, Dia punya hikmah yang selaras dengan kesempurnaan hikmah
dan ilmu-Nya. Dialah Tuhan Yang Maha berhikmah dan Maha Tahu. Dia tidak
mencipta, menakdirkan, dan mensyariatkan sesuatu pun tanpa hikmah meski hikmah
itu sendiri seringkali tidak terjangkau oleh akal manusia yang dangkal ini. Dia adalah
Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa. Hikmah-Nya tidak mungkin diingkari,
sebagaimana qudrah-Nya tidak dapat dipungkiri.
Kelompok pertama mengingkari hikmah, sedang yang kedua mengingkari
qudrah. Adapun umat wasath mengimani bahwa Allah punya hikmah dan qudrah
yang sempurna. Kelompok pertama melihat maksiat sebagai semata-mata kehendak
dan penciptaan-Nya yang tidak mengandung hikmah, bahkan mungkin mereka
memandangnya sebagai jabr (paksaan) dari pihak Tuhan, sehingga gerakan manusia
seperti gerakan pohon-pohon dan sejenisnya. Kelompok kedua melihat maksiat
sebagai semata-mata perbuatan yang dilakukan manusia dengan ikhtiar. Dialah yang
berkehendak melakukannya, tanpa kehendak Tuhan. Sedang umat wasath mengimani
bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Perkasa, kehendak-Nya pasti terlaksana. Tapi
di samping itu, juga mengakui adanya perbuatan dan ikhtiar dari pihak manusia itu
sendiri dan bahwa dia lebih mementingkan syahwat pribadi daripada ridha Tuhannya.
Pengakuan terhadap hal pertama tadi mengarahkan manusia untuk bermohon
kepada Tuhannya, tunduk dan tadharru' (patuh) kepada-Nya agar diberi taufik dalam
ketaatan dan menghindarkannya dari maksiat juga diteguhkan dalam memeluk
agama-Nya. Sedang pengakuan terhadap hakikat kedua menyebabkan pengakuan
terhadap dosa, dan bahwa dirinyalah yang zalim, yang pantas dan berhak disiksa.
Juga menyucikan Tuhan dari sifat zalim atau supaya tidak menyalahkan-Nya atas
dosa yang tidak diperbuat-Nya. Dari kedua pengakuan terhadap dua hakikat itu
tergabunglah pada diri manusia pengakuan keesaan (tauhid), keadilan, dan hikmahNya.
Dalam kitab al-Futuuhaat al-Qudsiyyah telah kami sebutkan cara pandang
manusia perihal perbuatan dosa yang semuanya bermuara pada delapan pandangan.
Pertama, cara pandang hewani; pandangan orang seperti ini terbatas pada
syahwat dan kesenangannya saja. Dalam cara pandang ini dia sama dengan seluruh
hewan, bahkan mungkin ia bersenang-senang melebihi hewan.
Kedua, cara pandang jabr yang melakukan dosa dan menggerakkannya bukan
diri orang itu sendiri; dia tidak memikul dosa. Ini adalah cara pandang kaum musyrikin
dan musuh-musuh para rasul.
Ketiga, cara pandang qadar bahwa orang itulah yang menciptakan dan
mengadakan perbuatannya tanpa intervensi kehendak Allah SWT. Ini adalah mazhab
qadariyyah, terpengaruh aliran Majusi.
Keempat, cara pandang para pemilik ilmu dan iman: cara pandang qadar dan
syara', yakni mengakui adanya perbuatan dari pihak orang itu dan qadha/qadar dari
Allah SWT seperti dijelaskan sebelumnya.
Kelima, cara pandang kemiskinan dan kelemahan. Kalau Allah SWT tidak
menolongnya, memberinya taufik, dan tidak meneguhkannya tentu dia binasa.
Perbedaan antara cara pandang ini dengan cara pandang jabariyyah jelas.
Keenam, cara pandang tauhid: mengakui bahwa hanya Allah SWT yang mencipta
dan pasti terwujud kehendak-Nya, dan bahwa makhluk terlalu lemah untuk Allah SWT dan sama sekali tidak timbul dari kehendak-Nya? Bagaimana akan mencari
atau mengakui adanya hikmah apabila ia adalah seseorang yang mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan itu adalah ciptaan Allah SWT tetapi perbuatan-perbuatan-Nya
tidak mengandung hikmah dan tidak dimasuki oleh laam ta'liil? Kalaupun dijumpai,
dia diartikan menjadi laam 'aaqibah, tidak sebagai laam Hllah danghaayah. Tapi bila
ada huruf bav masuk dalam perbuatan-perbuatan-Nya, maka ia diartikan sebagai
bav mushaahabah, bukan sebagai ba" sababiyyah. Apabila kalangan mutakallimin
(teolog) menurut masyarakat adalah mereka yang dari kedua kelompok ini, maka
masyarakat itu tidak melihat kebenaran keluar dari mereka.
Kemudian banyak ulama yang terhormat terheran-heran bila memperhatikan
pendapat mereka yang salah dan tidak tahu ke mana dia pergi. Ketika buku-buku
filsafat diterjemahkan ke bahasa Arab, banyak orang melihat pendapat-pendapat
mutakallimin yang lemah. Mereka mengatakan bahwa pendapatnya itulah ajaran
para rasul. Mereka menyeberangi jembatan dan melompat ke daratan. Semua itu
adalah kebodohan yang jelek dan persangkaan yang rusak bahwa kebenaran tidak
keluar dari pendapat mereka, padahal alangkah banyak pendapat mereka yang
menyalahi kebenaran. Alangkah sering dalam masalah-masalah yang sebenarnya
sudah benar, mereka mengungkapkan pendapat yang kontra dengan kebenaran.
Yang ingin kita tegaskan di sini, bahwa seandainya para mutakallimin sepakat
(ijma') atas sesuatu, ijma' mereka itu tidak jadi hujjah menurut ulama manapun.
Apalagi bila mereka berselisih pendapat.
Tujuan utama dari pembahasan ini bahwa musyaahadah (menyaksikan,
mengakui) hikmah Allah SWT dalam qadha dan qadar-Nya terhadap hamba-hambaNya berdasarkan pilihan dan kehendak mereka sendiri. Ini merupakan hal paling
rumit dan samar yang diperbincangkan manusia. Dalam hal itu terdapat hikmahhikmah yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu.
Kami akan menyinggung sebagiannya. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Hikmah Pertama. Dia mencintai orang-orang yang bertaobat. Saking cintanya,
Dia gembira dengan tobat mereka. Kegembiraan Tuhan ketika mendapati seorang
hamba yang bertobat lebih besar daripada kegembiraan seseorang yang menemukan
kembali unta tunggangannya yang membawa makanan dan minuman, ketika unta
itu hilang di sebuah padang pasir—sementara ia sudah putus asa mencari-carinya.
Tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari kegembiraan orang seperti ini. (Insya
Allah SWT akan kami jelaskan hal ini lebih dalam sebentar lagi.)
Kalau bukan karena cinta yang luar biasa kepada tobat dan orang-orang yang
bertaobat, kegembiraan ini tidak terjadi. Kita maklum bahwa mustahil ada akibat
tanpa ada sebabnya. Adakah tujuan tanpa sarananya? Tentu tidak ada! Inilah makna
perkataan seorang arif, "Seandainya tobat bukan sesuatu yang paling dicintai-Nya,
tentu Dia tidak menguji makhluk yang paling mulia di sisi-Nya (para nabi) dengan
dosa." Jadi, tobat adalah kesempurnaan paling tinggi bagi setiap manusia. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
Hikmah Kedua. Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya. Karena Dia begitu
senang memberi karunia dan nikmat, maka Dia memperbanyak variasinya, baik dalam
bentuk nikmat lahir maupun batin. Di antara kebaikan dan kemurahan-Nya adalah,
Dia berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, memaafkan orang yang berbuat
zalim, mengampuni orang yang berbuat dosa, dan menerima taobat orang yang
bertaobat. Dia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan terpuji
dan etika yang utama ini, dan tentu Dia lebih patut melakukannya daripada mereka.
Dalam memasang sebab-sebabnya, Dia punya hikmah yang mencengangkan akal
manusia. Subhanallah.
Seorang arif menuturkan pengalamannya, "Pada suatu malam nan gelap gulita
dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa
puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah
aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan,
'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
Hikmah Kedua. Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya. Karena Dia begitu
senang memberi karunia dan nikmat, maka Dia memperbanyak variasinya, baik dalam
bentuk nikmat lahir maupun batin. Di antara kebaikan dan kemurahan-Nya adalah,
Dia berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, memaafkan orang yang berbuat
zalim, mengampuni orang yang berbuat dosa, dan menerima taobat orang yang
bertaobat. Dia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan terpuji
dan etika yang utama ini, dan tentu Dia lebih patut melakukannya daripada mereka.
Dalam memasang sebab-sebabnya, Dia punya hikmah yang mencengangkan akal
manusia. Subhanallah.
Seorang arif menuturkan pengalamannya, "Pada suatu malam nan gelap gulita
dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa
puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah
aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan,
'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.Jumat, 23 November 2018
hikmah ilmu tidak diberikan kepada manusia
Diantara hikmah Allah SWT dalam ilmu yang tidak diberikan kepada manusia adalah pengetahuan tentang datangnya kiamat dan ajal. Hikmah dalam hal itu amatjelas, tidak membutuhkan perenungan. Kalau manusia tahu berapa usianya, bilausianya pendek, dia tidak dapat menikmati hidup. Bagaimana hidupnya nikmat biladia selalu menunggu-nunggu mati pada waktu yang telah ditentukan itu. Kalaulahbukan karena cita-cita yang tinggi (thuulul 'amal), tentu dunia sudah porak poranda.Makmurnya dunia adalah karena ada cita-cita. Tapi jika dia tahu umurnya panjang,dia tidak peduli tenggelam di dalam nafsu syahwat, kemaksiatan, dan berbagaikerusakan. Dia akan berkata bila ajalnya telah dekat, "Aku bertobat."Cara berpikir seperti ini tidak diridhai dan diterima oleh Allah SWT, dan keadaandunia jadi tidak baik. Alam tidak akan baik kecuali dengan pengaturan seperti yangada sekarang ini—yang telah selaras dengan hikmah-Nya. Kalau salah satu budakmuselama bertahun-tahun melakukan perbuatan yang membuatmu- marah lalu diamenyenangkanmu sesaat karena telah yakin kalau dirinya pasti kembali kepadamu,tentu kamu tidak menerimanya, dan pasti dia tidak mendapatkan apa yang didapatoleh budakmu yang lain, yang selalu mengharap mendapat ridhamu. Demikianlahsunnatullah berlaku, bahwa jika manusia telah menemui ajalnya, maka taobat (saatitu) tidak berguna. Allah SWT berfirman,"Dan tidaklah taobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakankejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka,(barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertaobat sekarang. "'(an-Nisaa":18)"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanyakepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kamipersekutukan dengan Allah.' Maka iman mereka tiada berguna bagi merekatatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlakuterhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir."(Ghaafir: 84-85) Allah SWT hanya mengampuni dosa seorang hamba apabila dia melakukan dosakarena kuatnya dorongan syahwat dan insting. Pada saat seperti ini, dia melakukandosa tersebut, tapi dengan perasaan tidak menyukainya dan tanpa ada keinginanuntuk terus. Orang seperti ini ada harapan untuk mendapat ampunan Allah SWTkarena Dia tahu akan kelemahannya dan keunggulan syahwatnya. Juga karena setiapwaktu dia melihat hal-hal yang menyebabkannya tidak dapat menahan diri untukberbuat dosa. Apabila dia melakukan dosa, dia tetap sebagai orang yang lemah dantunduk serta takut kepada Tuhannya. Di dalam dada orang ini terjadi peperanganantara nafsu syahwat dan perasaan benci ketika melakukannya. Sesekali diamemenuhi dorongan nafsunya, dan seringkali dia memenuhi dorongan iman. Adapun orang yang sudah berniat di dalam dirinya untuk tidak berhenti berbuatdosa, tidak punya rasa takut, tidak meninggalkan suatu syahwat karena takut kepadaAllah SWT, dia tertawa gembira bila melakukan dosa, maka orang seperti inilahyang dikhawatirkan terhalang dan tidak diberi kesempatan (oleh-Nya) untukbertaobat. Terhadap dosa dan maksiat dia cepat melakukan, tapi kepada taobat kepadaNya dia menangguh-nangguhkan sampai datang ajal menjemput.Kebanyakan orang seperti ini tidak bisa bertaobat, karena meninggalkankelezatan syahwat dan terus menerus melawan dorongan nafsu adalah sulit danberat, lebih berat daripada gunung. Apalagi bila ditambah dengan lemahnya bashirah
dan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarang
dengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari mereka
ketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinar
besok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarin
lusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,
kecuali bila Allah SWT menghendaki.
Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatan
tubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itu
menjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,
seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,
"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."
Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat dengan
maksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yang
melebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulah
seterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaan
seperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawa
kotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.
Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!
Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnya
diterima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukan
apa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yang
lebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampai
hartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang itu
akan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahu
siapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamat
ketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, maka
akan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.
Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasa
mengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak maudan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarangdengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari merekaketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinarbesok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarinlusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,kecuali bila Allah SWT menghendaki.Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatantubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itumenjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat denganmaksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yangmelebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulahseterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaanseperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawakotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnyaditerima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukanapa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yanglebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampaihartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang ituakan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahusiapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamatketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, makaakan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasamengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak mau
dan minimnya iman. Hatinya tidak mau tunduk untuk menjual kenikmatan sekarangdengan kelezatan masa depan. Persis seperti yang diucapkan seseorang dari merekaketika ditanya, "Mana yang lebih kamu sukai, satu dirham sekarang atau satu dinarbesok?" la menjawab, "Tidak kedua-duanya, melainkan seperempat dirham kemarinlusa." Makanya, tidak mungkin orang-orang itu mendapat taufik untuk bertaobat,kecuali bila Allah SWT menghendaki.Apalagi bila seorang manusia telah beranjak tua, bashirahnya lemah, kekuatantubuhnya menurun, dan perbuatan-perbuatan itu telah menambah kuat pembangkangannya dan membuat imannya makin lemah. Maka, perbuatan-perbuatan itumenjadi seperti perangai (bagian dari jati dirinya) yang tidak bisa ditinggalkannya,seperti diungkapkan dalam peribahasa Arab,"Seringnya melakukan sesuatu menjadikan sesuatu itu sebagai perangai."Akhirnya, di dalam jiwa tertanam sebuah sifat dan perangai yang lekat denganmaksiat. Setiap kali satu dari perbuatan itu dikerjakannya, menimbulkan efek yangmelebihi efek sebelumnya sehingga kedua efek itu jadi kuat, dan begitulahseterusnya. Hingga akhirnya kelemahan dan usia senja menerkamnya dalam keadaanseperti ini, dan dia mati, bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan najis, membawakotoran dan noda. Dia tidak sempat bersuci diri untuk menghadap Allah SWT.Bayangkan bagaimana keadaannya saat itu!Kalau saja dia taobat pada waktu masih sempat dan mampu, pasti taobatnyaditerima dan dosa-dosanya dihapus. Tetapi, dia bertaobat setelah tidak bisa melakukanapa yang diinginkan. Bagi orang yang mati dalam keadaan seperti ini tidak ada yanglebih diinginkannya melebihi taobat. Dia mengabaikan pembayaran utang sampaihartanya habis. Andai dia membayarnya saat masih lapang, tentu pemilik utang ituakan menerimanya. Nanti orang-orang yang melampaui batas dan ceroboh akan tahusiapa yang memberinya utang dan yang akan menagihnya, yakni pada hari kiamatketika terjadi pembayaran terhadap amal baik. Kalau amal baik sudah habis, makaakan dibebankan nilai kejahatan kepadanya.Dengan demikian, jelas hikmah Allah SWT dan nikmat-Nya atas hamba-hambaNya dengan tidak memberitahukan mereka kadar usia. Orang yang cerdas senantiasamengingat mati, meletakkannya di pelupuk matanya, sehingga dia tidak mau melakukan apa yang merugikan dirinya di saat dia dibangkitkan. Orang seperti ini
bekerja keras melakukan apa yang bermanfaat dan membuatnya gembira pada saat
berjumpa dengan Allah SWT.
Bila kamu bertanya, "Lihatlah orang ini! Meski kadar ajalnya tidak diberitahukan
kepadanya dan setiap waktu dia mengingat mati, dia masih saja melakukan maksiat
dan berbuat hal yang terkutuk. Mengapa ajalnya tidak diberitahukan kepadanya saja?"
Jawabnya, sungguh benar demikian. Itu memang masalah yang membingungkan
para ulama dalam menafsirkannya. Mereka pecah menjadi beberapa kelompok.
Sekelompok orang mengingkari/menolak adanya hikmah dan sama sekali tidak
mencari 'illah (sebab) dari perbuatan-perbuatan Tuhan. Mereka percaya kepada
jabr (paksaan) mutlak. Mereka menutup diri. Mereka mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan Tuhan tidak perlu diketahui 'illah-nya dan tidak ditujukan
untuk menciptakan maslahat manusia. Sumber segala perbuatan itu semata-mata
adalah kehendak dan kemauan Tuhan. Mereka mengingkari adanya hikmah Allah SWT
dalam perintah dan larangan-Nya.
Kelompok lain menolak qadar sama sekali. Mereka mengklaim bahwa perbuatanperbuatan hamba tidak diciptakan oleh Allah SWT sehingga perlu dicarikan apa
hikmah-Nya. Perbuatan-perbuatan itu hanya karya cipta mereka sendiri, terjadi
karena kebodohan, kezaliman dan kelemahan mereka. Tidak terjadi berdasarkan
buah pikiran yang matang, kecuali sebagian kecil saja.
Kedua kelompok ini seratus delapan puluh derajat bertentangan. Yang pertama
berlebihan dalam meyakini jabr (paksaan) dan mengingkari adanya hikmah dalam
perbuatan Allah SWT. Kelompok kedua keterlaluan dalam menerapkan konsep qadar.
Mereka mengeluarkan banyak peristiwa—kalau tidak kebanyakannya—dari
kekuasaan dan qudrah Tuhan. Tapi, Allah SWT menunjukkan Ahli Sunnah yang wasath
(pertengahan) kepada kebenaran dalam persoalan yang mereka perselisihkan.
Mereka mengakui kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Menurut mereka tidak
mungkin di alam semesta ini ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya atau
sesuatu yang Dia kehendaki tapi tidak terwujud. Penghuni langit maupun bumi ini
terlalu lemah untuk menciptakan apa yang tidak diciptakan oleh Allah SWT atau
mengerjakan apa yang tidak dikehendaki-Nya. Apa yang dikehendaki Allah SWT
akan ada; dan wujudnya ada akibat Dia menghendakinya. Begitu juga sebaliknya.
Apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan ada; wujudnya tidak ada karena Dia
tidak menghendakinya. Tidak ada kekuatan dan daya upaya melainkan dengan-Nya.
Tidak ada satu partikel pun yang bergerak di angkasa dan dasar bumi melainkan
dengan izin-Nya.
Meskipun begitu, dalam segala hal yang diciptakan, ditakdirkan, dan
disyariatkan-Nya, Dia punya hikmah yang selaras dengan kesempurnaan hikmah
dan ilmu-Nya. Dialah Tuhan Yang Maha berhikmah dan Maha Tahu. Dia tidak
mencipta, menakdirkan, dan mensyariatkan sesuatu pun tanpa hikmah meski hikmah
itu sendiri seringkali tidak terjangkau oleh akal manusia yang dangkal ini. Dia adalah
Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa. Hikmah-Nya tidak mungkin diingkari,
sebagaimana qudrah-Nya tidak dapat dipungkiri.
Kelompok pertama mengingkari hikmah, sedang yang kedua mengingkari
qudrah. Adapun umat wasath mengimani bahwa Allah punya hikmah dan qudrah
yang sempurna. Kelompok pertama melihat maksiat sebagai semata-mata kehendak
dan penciptaan-Nya yang tidak mengandung hikmah, bahkan mungkin mereka
memandangnya sebagai jabr (paksaan) dari pihak Tuhan, sehingga gerakan manusia
seperti gerakan pohon-pohon dan sejenisnya. Kelompok kedua melihat maksiat
sebagai semata-mata perbuatan yang dilakukan manusia dengan ikhtiar. Dialah yang
berkehendak melakukannya, tanpa kehendak Tuhan. Sedang umat wasath mengimani
bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Perkasa, kehendak-Nya pasti terlaksana. Tapi
di samping itu, juga mengakui adanya perbuatan dan ikhtiar dari pihak manusia itu
sendiri dan bahwa dia lebih mementingkan syahwat pribadi daripada ridha Tuhannya.
Pengakuan terhadap hal pertama tadi mengarahkan manusia untuk bermohon
kepada Tuhannya, tunduk dan tadharru' (patuh) kepada-Nya agar diberi taufik dalam
ketaatan dan menghindarkannya dari maksiat juga diteguhkan dalam memeluk
agama-Nya. Sedang pengakuan terhadap hakikat kedua menyebabkan pengakuan
terhadap dosa, dan bahwa dirinyalah yang zalim, yang pantas dan berhak disiksa.
Juga menyucikan Tuhan dari sifat zalim atau supaya tidak menyalahkan-Nya atas
dosa yang tidak diperbuat-Nya. Dari kedua pengakuan terhadap dua hakikat itu
tergabunglah pada diri manusia pengakuan keesaan (tauhid), keadilan, dan hikmahNya.
Dalam kitab al-Futuuhaat al-Qudsiyyah telah kami sebutkan cara pandang
manusia perihal perbuatan dosa yang semuanya bermuara pada delapan pandangan.
Pertama, cara pandang hewani; pandangan orang seperti ini terbatas pada
syahwat dan kesenangannya saja. Dalam cara pandang ini dia sama dengan seluruh
hewan, bahkan mungkin ia bersenang-senang melebihi hewan.
Kedua, cara pandang jabr yang melakukan dosa dan menggerakkannya bukan
diri orang itu sendiri; dia tidak memikul dosa. Ini adalah cara pandang kaum musyrikin
dan musuh-musuh para rasul.
Ketiga, cara pandang qadar bahwa orang itulah yang menciptakan dan
mengadakan perbuatannya tanpa intervensi kehendak Allah SWT. Ini adalah mazhab
qadariyyah, terpengaruh aliran Majusi.
Keempat, cara pandang para pemilik ilmu dan iman: cara pandang qadar dan
syara', yakni mengakui adanya perbuatan dari pihak orang itu dan qadha/qadar dari
Allah SWT seperti dijelaskan sebelumnya.
Kelima, cara pandang kemiskinan dan kelemahan. Kalau Allah SWT tidak
menolongnya, memberinya taufik, dan tidak meneguhkannya tentu dia binasa.
Perbedaan antara cara pandang ini dengan cara pandang jabariyyah jelas.
Keenam, cara pandang tauhid: mengakui bahwa hanya Allah SWT yang mencipta
dan pasti terwujud kehendak-Nya, dan bahwa makhluk terlalu lemah untuk Allah SWT dan sama sekali tidak timbul dari kehendak-Nya? Bagaimana akan mencari
atau mengakui adanya hikmah apabila ia adalah seseorang yang mengatakan bahwa
perbuatan-perbuatan itu adalah ciptaan Allah SWT tetapi perbuatan-perbuatan-Nya
tidak mengandung hikmah dan tidak dimasuki oleh laam ta'liil? Kalaupun dijumpai,
dia diartikan menjadi laam 'aaqibah, tidak sebagai laam Hllah danghaayah. Tapi bila
ada huruf bav masuk dalam perbuatan-perbuatan-Nya, maka ia diartikan sebagai
bav mushaahabah, bukan sebagai ba" sababiyyah. Apabila kalangan mutakallimin
(teolog) menurut masyarakat adalah mereka yang dari kedua kelompok ini, maka
masyarakat itu tidak melihat kebenaran keluar dari mereka.
Kemudian banyak ulama yang terhormat terheran-heran bila memperhatikan
pendapat mereka yang salah dan tidak tahu ke mana dia pergi. Ketika buku-buku
filsafat diterjemahkan ke bahasa Arab, banyak orang melihat pendapat-pendapat
mutakallimin yang lemah. Mereka mengatakan bahwa pendapatnya itulah ajaran
para rasul. Mereka menyeberangi jembatan dan melompat ke daratan. Semua itu
adalah kebodohan yang jelek dan persangkaan yang rusak bahwa kebenaran tidak
keluar dari pendapat mereka, padahal alangkah banyak pendapat mereka yang
menyalahi kebenaran. Alangkah sering dalam masalah-masalah yang sebenarnya
sudah benar, mereka mengungkapkan pendapat yang kontra dengan kebenaran.
Yang ingin kita tegaskan di sini, bahwa seandainya para mutakallimin sepakat
(ijma') atas sesuatu, ijma' mereka itu tidak jadi hujjah menurut ulama manapun.
Apalagi bila mereka berselisih pendapat.
Tujuan utama dari pembahasan ini bahwa musyaahadah (menyaksikan,
mengakui) hikmah Allah SWT dalam qadha dan qadar-Nya terhadap hamba-hambaNya berdasarkan pilihan dan kehendak mereka sendiri. Ini merupakan hal paling
rumit dan samar yang diperbincangkan manusia. Dalam hal itu terdapat hikmahhikmah yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu.
Kami akan menyinggung sebagiannya. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Hikmah Pertama. Dia mencintai orang-orang yang bertaobat. Saking cintanya,
Dia gembira dengan tobat mereka. Kegembiraan Tuhan ketika mendapati seorang
hamba yang bertobat lebih besar daripada kegembiraan seseorang yang menemukan
kembali unta tunggangannya yang membawa makanan dan minuman, ketika unta
itu hilang di sebuah padang pasir—sementara ia sudah putus asa mencari-carinya.
Tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari kegembiraan orang seperti ini. (Insya
Allah SWT akan kami jelaskan hal ini lebih dalam sebentar lagi.)
Kalau bukan karena cinta yang luar biasa kepada tobat dan orang-orang yang
bertaobat, kegembiraan ini tidak terjadi. Kita maklum bahwa mustahil ada akibat
tanpa ada sebabnya. Adakah tujuan tanpa sarananya? Tentu tidak ada! Inilah makna
perkataan seorang arif, "Seandainya tobat bukan sesuatu yang paling dicintai-Nya,
tentu Dia tidak menguji makhluk yang paling mulia di sisi-Nya (para nabi) dengan
dosa." Jadi, tobat adalah kesempurnaan paling tinggi bagi setiap manusia. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
Hikmah Kedua. Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya. Karena Dia begitu
senang memberi karunia dan nikmat, maka Dia memperbanyak variasinya, baik dalam
bentuk nikmat lahir maupun batin. Di antara kebaikan dan kemurahan-Nya adalah,
Dia berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, memaafkan orang yang berbuat
zalim, mengampuni orang yang berbuat dosa, dan menerima taobat orang yang
bertaobat. Dia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan terpuji
dan etika yang utama ini, dan tentu Dia lebih patut melakukannya daripada mereka.
Dalam memasang sebab-sebabnya, Dia punya hikmah yang mencengangkan akal
manusia. Subhanallah.
Seorang arif menuturkan pengalamannya, "Pada suatu malam nan gelap gulita
dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa
puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah
aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan,
'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
Hikmah Kedua. Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya. Karena Dia begitu
senang memberi karunia dan nikmat, maka Dia memperbanyak variasinya, baik dalam
bentuk nikmat lahir maupun batin. Di antara kebaikan dan kemurahan-Nya adalah,
Dia berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, memaafkan orang yang berbuat
zalim, mengampuni orang yang berbuat dosa, dan menerima taobat orang yang
bertaobat. Dia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan terpuji
dan etika yang utama ini, dan tentu Dia lebih patut melakukannya daripada mereka.
Dalam memasang sebab-sebabnya, Dia punya hikmah yang mencengangkan akal
manusia. Subhanallah.
Seorang arif menuturkan pengalamannya, "Pada suatu malam nan gelap gulita
dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa
puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah
aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan,
'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah. Kesempurnaan bapak mereka (Adam) adalah dengan taobat itu. Betapa jauh beda
keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan, sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula)
akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)
Dan ketika dikatakan kepadanya,
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan
memberinya petunjuk." (Thaahaa: 122)
Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang.
Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan
(derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taobat, maka
kesempurnaan anak cucunya juga dengan taobat seperti firman Allah SWT,
"Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lag! Maha Penyayang." (al-Ahzaab: 73)
Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taobat yang nashuuhah,
dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan
ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.
Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taobat,
maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah
mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah
orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah
keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.Rabu, 14 November 2018
Tuhan Menciptakan Segala Sesuatu dengan Sangat Pas
salam, kembali saya akan memposting sebuah tulisan karya ibnu qayyim al jauziyah.
Tuhan Menciptakan Segala Sesuatu dengan Sangat Pas
Perhatikanlah hikmah Dia menciptakan hewan pemakan daging. Hewan ini
memiliki gigi-gigi yang tajam, kuku-kuku yang kuat, rahang dan mulut yang lebar,
dibantu dengan senjata-senjata dan sarana-sarana berburu. Anda lihat burung-burung
buas punya paruh yang tajam dan cakar yang kuat. Oleh sebab itu, Nabi saw.
mengharamkan setiap hewan buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam256.
Karena, hewan ini berbahaya dan ganas terhadap manusia; dan yang memakan mirip
dengan yang dimakan. Kalau manusia mengkonsumsinya, tentu akan tertular akhlak
dan sifatnya yang jahat/liar. Karena itulah, beliau mengharamkannya. Tapi beliau
tidak mengharamkan adh-dhab' (sejenis biawak) meski hewan ini bertaring, karena
dia tidak tergolong hewan buas dalam pandangan bangsa manapun.
Jadi, pengharaman itu hanya mencakup hewan yarig mengandung kedua kriteria
ini: bertaring dan buas. Dan, tak bisa dikatakan bahwa kaedah ini tidak mencakup
hewan buas yang tidak bertaring, karena hewan seperti itu tidak ada sama sekali.
Maka, shalawat dan salam kita ucapkan ke hadirat Rasul yang dikaruniai jawaami'ul
kalim dan menjelaskan hukum halal dan haram.
Lihatlah hikmah Allah SWT dalam khalq 'ciptaan' dan amr 'perintah' serta
larangan dalam syariat-Nya. Anda mendapati semuanya bersumber pada hikmah
yang luar biasa yang sistemnya tidak pernah salah. Sebagian orang ada yang
mengetahui hikmah amr lebih banyak dari pengetahuannya tentang hikmah khalq.
Mereka ini adalah manusia khawaash, yang memahami perintah dan agama Allah
SWT, mengerti hikmah-Nya ketika mensyariatkan hukum.' Fitrah dan akal mereka
mengakui bahwa itu bersumber pada hikmah yang luar biasa dan maslahat yang ingin
diwujudkan untuk umat manusia dalam kehidupan dunia-akhirat. Dalam hal ini, mereka
ada beberapa derajat, hanya Allah SWT yang tahu.
Sebagian lagi ada yang pengetahuannya tentang hikmah khalq lebih banyak
daripada pengetahuannya tentang hikmah amr. Mayoritas tabib termasuk kelompok
ini. Mereka memusatkan perhatian dan pikiran mereka untuk menggali manfaat
tanaman dan hewan, kekuatannya, dan khasiatnya. Mereka hanya mengerti hikmah
amr sebanyak hikmah khalq yang diketahui para fukaha, bahkan lebih sedikit.
Sebagian lagi ada yang mendapat taufik, sehingga mengerti hikmah khalq dan
amr sekaligus sesuai dengan potensi dan kekuatannya. Karenanya, dia bisa melihat
hikmah yang menakjubkan akal dalam kedua hal ini. Apabila dia melihat ciptaan-Nya
dan memperhatikan hikmahnya, keimanan mereka terhadap ajaran yang dibawa para
rasul bertambah. Apabila dia merenungkan perintah dan syariat-Nya serta hikmah di dalamnya, iman dan keyakinan serta penyerahan dirinya meningkat. la tidak seperti
orang yang terhijab mata hatinya gara-gara menyaksikan ciptaan sehingga tidak
mengakui adanya sang pencipta. Kalau saja dia memberi ilmu haknya yang layak,
tentu dia adalah orang yang paling kuat imannya. Karena, dia menyaksikan ayat dan
ciptaan Allah SWT yang menjadi bukti wujud-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan dan hikmahNya, yang tidak disaksikan orang lain.
Akan tetapi, ada hikmahnya juga kalau Allah SWT menghijab sebagian besar
akal mereka ini, sehingga tidak mengenal-Nya, dan hanya memberi mereka
pengetahuan tentang zahir kehidupan dunia dan mereka lalai dari kehidupan akhirat.
Hikmah-Nya adalah karena akal-akal mereka hina, rendah, dan tidak layak mendapat
makrifat mengenal tentang Tuhan, mengetahui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan
rahasia agama-Nya. Karunia itu di tangan Allah SWT, diberikan-Nya kepada siapa
yang dikehendaki. Allahlah pemilik karunia yang luar biasa.
Pengetahuan manusia tentang hal ini tidak ada apa-apanya dibanding yang tidak
mereka ketahui. Ilmu orang-orang dahulu dan sekarang seperti setetes air di lautan.
Meski demikian, itu tidak boleh menyebabkan orang mengabaikannya dan putus
asa. Orang berakal dapat menjadikan sesuatu yang tampak olehnya sebagai dalil
atas yang tersembunyi.
Senin, 12 November 2018
Di Antara Hikmah Tuhan; Segala Sesuatu Saling Melengkapi
salam, semoga Aktivitas hari hari sahabatku semua ada dalam Ridha Allah Swt. di sini saya akan memposting kembali karya yang sangat luar biasa dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berjudul :
Di Antara Hikmah Tuhan; Segala Sesuatu Saling Melengkapi
Kemudian perhatikanlah tanaman obat yang dikeluarkan Allah SWT dari dalam
tanah. Renungkanlah manfaat masing-masing yang khas! Ada yang menembus ke
dalam persendian untuk mengeluarkan cairan-cairan sisa yang berat dan mematikan
seandainya tak dibuang. Ada yang mengeluarkan empedu hitam, ada yang
mengeluarkan empedu kuning. Ada yang mengempiskan bengkak-bengkak, ada yang
menenangkan debar jantung dan depresi, ada yang menidurkan, ada yang
merampingkan badan yang kegemukan, ada yang menggembirakan hati apabila
dirundung berbagai pikiran, ada yang membersihkan dahak, ada yang menajamkan
mata, ada yang mengharumkan bau mulut, ada yang berfungsi menurunkan tekanan
syahwat, ada yang sebaliknya membangkitkannya, ada yang menurunkan panas, ada
yang sebaliknya mengusir dingin dan membangkitkan hawa panas, ada yang bersifat
menangkal efek negatif obat dan makanan lain.
Ada yang berfungsi sebagai penyeimbang obat lain, sehingga dengan menelan
keduanya suhu badan menjadi normal. Ada yang menghilangkan dahaga, ada yang
mengusir masuk angin, ada yang memberi warna yang cemerlang, ada yang
menambah gemuk badan, ada yang menguranginya, ada yang mencuci lambung,
dan masih banyak manfaat lain yang tidak terhitung oleh manusia.
Tanyalah orang yang ingkar, siapa yang meletakkan manfaat-manfaat dan
kekuatan-kekuatan ini di dalam rerumputan, tanaman, biji-bijian, dan akar-akaran
itu? Siapa yang memberi keistimewaan masing-masing? Siapa pula yang membimbing
manusia, dan bahkan hewan, untuk mengkonsumsi obat yang bermanfaat dan
menghindari yang berbahaya? Siapa yang memberitahukannya kepada manusia dan
hewan melata itu? Mungkinkah dengan akal dan pengalaman semata, tanpa petunjuk
dari Tuhan yang telah mencipta segala sesuatu lalu memberinya hidayah, dia bisa
mengetahui fungsinya seperti sangkaan orang yang tidak mendapat taufik-Nya?
Anggaplah manusia mengetahui hal-hal tersebut dengan akal, pikiran, dan
pengalamannya. Tapi, siapa yang memberitahukannya kepada hewan-hewan? Banyak
di antara yang diketahui hewan belum diketahui oleh manusia sendiri. Salah satu
binatang buas mengobati lukanya dengan salah satu tanaman sehingga sembuh. Siapa
yang membimbingnya mengambil khusus tanaman itu, bukan tanaman yang lain?
Sementara itu, sebagian burung terlihat meminum air laut ketika sembelit sehingga
buang airnya lancar. Burung yang lain, apabila sakit, memakan suatu jenis tanaman
sehingga kesehatannya pulih. Dalam dasar-dasar ilmu kedokteran, para tabib
menyebutkan banyak sekali keajaiban dalam hal ini.
Maka, tanyailah orang yang ingkar, siapa yang mengilhamkan hal itu kepadanya,
siapa yang membimbingnya ke sana? Mungkinkah semua ini terjadi tanpa takdir
dari Tuhan Yang Maha Perkasa dan Bijaksana, Maha Pengasih dan Maha Tahu? Tuhan
yang hikmah-Nya menakjubkan akal, dan yang fitrah manusia mengakui bahwa Dia
adalah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Dialah Tuhan Pencipta yang tiada yang
patut disembah selain Dia. Kalau ada Tuhan selain Dia di langit atau bumi, tentu
langit dan bumi akan rusak, sistem alam akan hancur. Maha Suci Allah dari sifat
yang dilekatkan orang-orang yang zalim dan ingkar kepada-Nya.
Mungkin Anda bertanya: apa hikmah tanaman yang banyak tumbuh di padang
pasir, tanah kosong, dan pegunungan tak berpenghuni? Mungkin Anda menyangka
itu sekedar aksesoris alam, tidak dibutuhkan, tidak ada gunanya diciptakan.
Pertanyaan ini menunjukkan kadar akal dan pengetahuanmu yang dangkal. Betapa
banyak hikmah Tuhan menciptanya; sebagai makanan hewan liar, burung, dan hewan
melata yang tempat tinggalnya tidak terlihat oleh Anda, di bawah tanah atau di atasnya.
Tetumbuhan itu seperti meja hidangan yang disediakan Allah SWT untuk burung
dan hewan-hewan tersebut. Mereka mengkonsumsinya secukup kebutuhan mereka,
lalu sisanya tetap banyak, persis seperti hidangan yang melimpah yang tersisa dari
tamu karena tuan rumah amat kaya
Ingin Hidup Ringan dan Rezeki terus Mengalir.?
dalam tulisan ini saya mengutip sebagian ceramah ust Adi Hidayat, Lc.
Ingin Hidup Ringan dan Rezeki terus Mengalir.?
Semua manusia tentunya ingin hidupnya ringan dan rezaki terus mengalir, bagaimana kincinya.
1. Bekerja
Bekerja itu sangat penting untuk melangsungkan kehidupan dunia kita guna melaksanakan kehambaan kita kepada Allah swt. Bahkan kita bisa mengambil manfaat dari pekerjaan kita di dunia untuk bekal kita di akhirat.
Sesuai dengan firman Allah SWT surat Al-Qasas Ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ
اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
2. Bertaqwa kepada Allah SWT.
Siapa yang ingin hidupnya ringan, diringankan rezekinya bahkan dari hal yang tidak di duga-duga salah satu yang dipercepat rejekinya oleh Allah Swt adalah orang yang bertaqwa sesuai dengan firman Allah Swt dalam QS.At-Thalaq ayat 2-3 di akhir ayat ke 2 di awal ayat ke 3.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: barangsiapa yang mampu meningkatkan taqwanya kepada Allah maka kami akan berikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka sangka.
Dari ayat ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa dengan bertaqwa apabila kita mempunyai masalah maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kita, dan dengan bertaqwa Allah akan memberikan rezeki bagi kita dari arah yang tidak disangka sangka.
Rezeki tdak hanya berupa uang namun rezeki juga bisa berupa anak, ketenangan, kesehatan serta sehatnya kita pun itu rezeki.
Minggu, 11 November 2018
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagai guru Agama
setiap mengajar hampir tidak bisa lepasdenganbuku khususnyabukuteks.Dalam
buku teks dimuat materi atau pokok bahasan sesuai dengan rencana yang ada dalam
kurikulum, Karenanya setiap buku teks selalu disusun berdasarkan kurikulum yang
dipergunakan.Bila tidak ada buku teks anak-anak banyak menghabiskan
waktu untuk mencatat, yang akibatnya bias mengurangi pencapaian tujuan kurikulum.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian
Kurikulum dan Buku Teks ?
2.
Apa Saja Batasan
Kurikulum ?
3.
Apa Analisis
Batasan Kurikulum ?
4.
Apa saja batasan
buku teks ?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertiankurikulumdanbukuteks
2.
Untuk mengetahui
batasan kurikulum
3.
Untuk mengetahui
analisis batasan kurikulum
4.
Untuk mengetahui batasan buku teks
?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kurikulum
Dan Buku Teks
Pengertian
Kurikulum secara terminologi dibagi menjadi dua yaitu:
1.
Secara Tradisional atau Sempit Kurikulum diartikan
sebagai subjek atau mata pelajaran yang wajib dikuasai anak didik secara kognitif
untuk lulus dan mendapat ijazah.
2.
Secara Modern atau Luas Kurikulum diartikan sebagai
keseluruhan pengalaman anak atau peserta didik saat ada di dalam kelas maupun
di luar kelas yang mempunyai tujuan dan berada di bawah tanggung jawab sekolah.
Dan juga kurikulum menurut
Para Ahli
1.
Crow and Crow Kurikulum adalah Rancangan Pengajaran
atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan
suatu program untuk memperoleh ijazah.
2.
Carter V. Good Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang bersifat sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi
dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial, kurikulum
pendidikan fisika.
3.
Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell
Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di bawah bimbingan guru.
4.
Ronald C. Doll Kurikulum sekolah adalah konten dan proses
formal maupun non formal di mana pebelajar memperoleh pengetahuan dan
pemahaman, perkembangan skil, perubahan tingkah laku, apresiasi, dan
nilai-nilai di bawah bantuan sekolah
Jadi dapat disimpulkan:
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan
oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran
yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang
pendidikan
Adapun Pengertian dari Buku Teks Secara definis i adalahsarana
belajar yang digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk
menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum
dipahami. (buckingham, 1958) Buku teks adalah buku yang dirancang buat
penggunaan dikelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar dalam
bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan
serasi (bacon, 1935)
B.
Batasan-BatasanKurikulum
1.
KurikulumsebagaiSuatu Program Kegiatan yang
Terencana
Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap
setiap kegiatan yang direncanakan untuk dapat dialami seluruh siswa, kurikulum
berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject
matter, teknik mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya
(Saylor, Alexander, dan Lewis, 1986). Pada hakikatnya, kurikulum bersifat sebagai suatu
program kegiatan terencana (program of planned activities) memiliki
rentang yang cukup luas, hingga membentuk suatu pandangan yang menyeluruh. Di
suatu pihak, kurikulum dipandang sebagai suatu dokumen tertulis (Beaucham,
1981) dan di lain pihak, kurikulum dipandang sebagai rencana yang tidak
tertulis yang terdapat dalam pikiran pihak pendidik (Taylor, 1970).
2. Kurikulum
sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
Beberapa
penulis kurikulum (Johnson, 1977 dan Posner, 1982) menyatakan bahwa kurikulum
seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas, tetapi difokuskan secara langsung
pada berbagai hasil belajar yang diharapkan (intended learning outcomes).
Kajian ini menekankan perubahan cadra pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai
alat (means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan
dicapai (ends). Ssalah satu alasan utama adalah karena hasil belajar
yang diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan
kegiatan pembelajaran.
di Dalam
konteks ini, tujuan pembelajaran tidak lagi dirumuskan dalam retorika global
seperti “Siswa memiliki apresiasi terhadap warisan budaya”, tetapi dirumuskan
dalam serangkaian hasil belajar yang terstruktur. Artinya, setiap kegiatan,
pengajaran, desain lingkungan, dan sebagainya, difungsikan sedemikian rupa
sehingga saling mendukung untuk mencapai tujuan akhir (ends) yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dalam pandangan ini, hasil belajar yang diharapkan
tersebut tidak dapat disamakan dengan kurikulum itu sendiri, tetapi lebih
merupakan dunia (realms) kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
akhir (hasil belajar) yang diharapkan.
3. Kurikulum
sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
Sebagian pakar ahli pendidikan berpandangan bahwa kurikulum dalam setiap masyarakat atau
budaya seharusnya menjadi refleksi dari budaya masyarakat itu sendiri. Sekolah
bertugas untuk memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting bagi generasi
penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggung jawab mengidentifikasi
ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan berbagai
apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak pendidik profesional
bertanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan
apresiasi tersebut telah ditransformasikan ke dalam kurikulum yang dapat
disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda.
Beberapa
contoh dari pandangan kurikulum sebagai reproduksi kultural ini adalah berbagai
peristiwa partriotik dalam sejarah nasional, sistem ekonomi yang dominan (komunistik
atau kapitalistik), berbagai konvensi kebudayaan, kebiasaan, dan aturan adat
istiadat (lores & folkways), serta nilai-nilai agama yang ada di
berbagai sekolah yang bernaung di bawah lembaga keagamaan seperti parochical
school dan sekolah-sekolah umum. Pengembangan kurikulum seperti gaya ini
dimaksudkan untuk meneruskan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus
melalui lembaga penerus.
Pada
mulanya, model kurikulum ini dikembangkan dalam masyarakat industri, ketika
para orang tua tidak sempat lagi memberikan pelatihan pada anak-anak mereka,
sehingga pelatihan tersebut di percayakan kepada lembaga-lembaga pendidikan,
baik yang dikelola lembaga agama tertentu seperti parochial school, maupun yang
dikelola oleh pemerintah dalam bentuk sekolah umum. Model pengembangan
kurikulum semacam ini lebih dikenal sebagai model kurikulum berbasis masyarakat
atau curriculum-based community (CBC)
4.
Kurikulum
sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrit
Pandangan
ini berpendapat bahwa kurikulum merupakan satu kumpulan tugas dan konsep (discrete
tasks and concept) yang harus dikuasai oleh setiap siswa. Dalam hal ini, dapat diasumsikan
bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri)
tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki interpretasi behavioral yang spesifik,
misalnya mempelajarai suatu tugas baru atau dapat melakukan sesuatu yang lebih
baik. Pendekatan seamacam ini berkembang dari program-program training dalam
bisnis, industry, serta kemiliteran.
5.
Kurikulum
sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
Sejauh
mana keberanian sekolah dalam membangun suatu tatanan sosial yang baru (Dare the
school build a new social order)? Pertanyaan ini merupakan judul karya
George S. Counts (1932) seorang yang dipandang sebagai salah seorang perintis
rekonstruksionisme sosial dalam pendidikan. Ide Counts tersebut banyak
diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam decade 1940-an dan 1950-an, yang
banyak terinspirasi pemikiran Dewey. Pandangan ini berpendapat bahwa sekolah
harus mempersiapkan suatu agenda pengetahuan dan nilai-nilai yang diyakini
dapat menuntun siswa memperbaiki masyarakat dan institusi kebudayaan, serta
berbagai keyakinan dan kegiatan praktik yang mendukungnya.
6.
Kurikulum
sebagai Currere
Salah
satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi kurikulum adalah pandangan
yang menekankan pada bentuk kata kerja kurikulum itu sendiri, yaitu currere.
Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau lomba (race
course) kurikulum, currere merujuk pada jalannya lomba dan
menekankan masing-masing kapasitas individu untuk merekonseptualisasi
otobiografinya sendiri. Hal ini ditegaskan oleh Scubert (1986) sebagaimana
dalam kutipan berikut:“Instead of taking to the interpretation from the race
course etymology of curriculum, currere refers to the running of the race and
emphasis the individual’s own capacity to reconceptualize his or her
autobiography”.
Pemikiran
Schubert tersebut didukung oleh Pinar dan Grummet (1976) yang mengilustrasikan
bahwa masing-masing individu berusaha menemukan pengertian (meaning) di
tengah-tengah berbagai peristiwa terakhir yang dialaminya, kemudian bergerak
secara historis ke dalam pengalamannya sendiri di masa lampau untuk memulihkan
dan membentuk kembali pengalaman semula (to recover and reconstitute the
origins), serta membayangkan dan menciptakan berbagai arah yang saling
bergantung dengan subdivis-subdivisi pendidikan lainnya.
Dalam
konteks ini, perlu dipertimbangkan perspektif ekologis, yaitu makna dari segala
sesuatu harus dipandang secara kontinyu berikut interdependensinya dengan
kekuatan-kekuatan yang mempengaruhinya. Dengan demikian, karakter kurikulum
membentuk dan dibentuk oleh berbagai hubungan eksternal dengan pengetahuan,
perspektif dan praktik-praktik dalam domain kependidikan lainnya seperti
administrasi, supervisi, dasar-dasar pendidikan (sejarah dan filsafat
pendidikan, termasuk sosiologi, politik, ekonomi, antropologi, bahkan
perspektif sastra), studi kebijakan, evaluasi, metodologi penelitian, subject
areas, jenjang dan tingkatan pendidikan, pengajaran, pendidikan khusus,
psikologi pendidikan, dan sebagainya. Oleh karena beberapa di antara bidang di
atas memiliki relevansi langsung dengan kurikulum jika dibandingkan dengan
bidang lainnya, maka bidang-bidang yang lebih relevan tersebut perlu dianalisis
secara lebih luas dan mendalam.
C.
AnalisisIsi Batasan Kurikulum
Isi kurikulum adaIah berbagai pengetahuan
dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada anak untuk mencapai tujuan
pendidikan yang di inginkan. Dalam menentukan isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan
maupun pengalaman belajar disesuaikan dengan tingkat
dan jenjang pendidikan, perkembangan masyarakat, (tuntutan dan kebutuhan), perkembangan
iptek.
Ada tiga pengetahuan dasar manusia yang harus diketahui yaitu
pengetahuan tentang benar salah (logika), pengetahuan baik-buruk (etika), dan pengetahuan
yang berkenaan dengan indah-jelek (estetika),
Ada tiga kategori
cabang ilmu pengetahuan yaitu: llmu Pengetahuan Alam, ilmu Pengetahuan Sosial, dan
ilmu Pengetahuan Humaniora. ilmu pengetahuan mana yang pantas dan sesuai untuk
diberikan pada anak sesuai dengan jenjang tertentu. Untuk memilih jenis pengetahuan dan
pengalaman belajar yang tepat diperlukan kriteria yang jelas.
Ada beberapa alas an mengapa perlu
dilakukan pilihan dalam menentapkan isi kurikulum, antara lain:
1.
Tugas dan tanggung
jawab sekolah untuk mencerdaskan
anak waktunya sangat terbatas. Padahal proses pendidikan dan pencerdasan berlangsung
terus menerus sepanjang hayat. Karena keterbatasan tersebut menuntut penting nya
seleksi isi kurikulum sebagai program pendidikan.
2.
Perkembangan dan
tuntutan masyarakat selalu berubah. Apa yang diajarkan hari ini mungkin tidak
memadai lagi untuk hari esok.
3.
Adanya jenjang serta jenis pendidikan menunut kesesuaian isi kurikulun, yang sesuai dengan jenjang
dan jenis pendidikan tersebut,
4.
Pendidikan di
sekolah merupakan bagian dan pendidikan seumur hidup. Dengan demikian
pendidikan di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak terpisahkan satu sama lainnya,
Bila kita harus memilih isi kurikulum,
maka kriteria yang bias digunakan adalah :
1.
Isi kurikulum
harus sesuai, dengan tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa artinya
sejalan dengan tahap perkembangan anak.
2.
Isi kurikulum
harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengantuntutan hidup nyata
dalam masyarakat.
3.
Isi kurikulum
dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual,
moral, sosial secara seimbang.
4.
Isi kurikulum
harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk
hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari.
5.
Isi kurikulum
mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat
didalamnya, bukan hanya informasi aktual.Isi kurikulum harus dapat menunjang
tercapainya tujuan pendidikan
D.
Batasan-batasan Buku Teks
Greene dan Petty membagi keterbatasan-keterbatasan buku teks yaitu sebagai berikut:
a.
Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar
(walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tapi merupakan suatu sarana pengajaran.
b.
Isi
yang disajikan sebagai perangkat-perangkat kegiatan belajar yang dipadu secara
artifisial atau secara buatan saja bagi setiap kelas tertentu.
c.
Latihan-latihan dan tugas-tugas praktis
agaknya kurang kuat atau kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan
dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktek-praktek,
latihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan.
d.
Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit
dan singkat karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, serta wadah yang
tersedia di dalamnya.
e. Bantuan-bantuan
yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah
mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang diinginkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
a. Kurikulum adalah perangkat
mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga
penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan
kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Buku teks adalah buku yang
dirancang buat penggunaan dikelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para
pakar dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang
sesuai dan serasi (bacon, 1935).
b. Batasan-BatasanKurikulum
a.
Kurikulum sebagai Suatu Program Kegiatan yang
Terencana
b.
Kurikulum
sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
c.
Kurikulum
sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
d.
Kurikulum
sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrit
e.
Kurikulum
sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
f.
Kurikulum
sebagai Currere
c.
AnalisisIsi Batasan Kurikulum
1.
Isi kurikulum
harus sesuai, dengan tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa artinya
sejalan dengan tahap perkembangan anak.
2.
Isi kurikulum
harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata
dalam masyarakat.
3.
Isi kurikulum
dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual,
moral, sosial secara seimbang.
4.
Isi kurikulum
harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk
hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari.
5.
Isi kurikulum
mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat
didalamnya, bukan hanya informasi aktual.Isi kurikulum harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan
d.
Batasan-batasan Buku
Teks
a.
Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar
(walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tapi
merupakan suatu sarana pengajaran.
b.
Isi yang selau disajikan sebagai
perangkat-perangkat kegiatan belajar dipadu secara artifisial atau secara
buatan saja bagi setiap kelas tertentu.
c.
Latihan-latihan serta tugas-tugas praktis
agaknya kurang adekuat atau kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan
dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktek-praktek,
latihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan.
d.
Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit
serta singkat karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, atau wadah yang
tersedia di dalamnya.
e.
bantuan-bantuan
yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah
mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang diinginkan.
Langganan:
Postingan (Atom)



