Minggu, 11 November 2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Sebagai guru Agama setiap mengajar hampir tidak bisa lepasdenganbuku khususnyabukuteks.Dalam buku teks dimuat materi atau pokok bahasan sesuai dengan rencana yang ada dalam kurikulum, Karenanya setiap buku teks selalu disusun berdasarkan kurikulum yang dipergunakan.Bila tidak ada buku teks anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk mencatat, yang akibatnya bias mengurangi pencapaian tujuan kurikulum.

B.        Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Kurikulum dan Buku Teks ?
2.      Apa Saja Batasan Kurikulum ?
3.      Apa Analisis Batasan Kurikulum ?
4.      Apa saja batasan buku teks ?

C.        Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertiankurikulumdanbukuteks
2.      Untuk mengetahui batasan kurikulum
3.      Untuk mengetahui analisis batasan kurikulum
4.      Untuk mengetahui batasan buku teks ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Kurikulum Dan Buku Teks
Pengertian Kurikulum secara terminologi dibagi menjadi dua yaitu:
1.    Secara Tradisional atau Sempit Kurikulum diartikan sebagai subjek atau mata pelajaran yang wajib dikuasai anak didik secara kognitif untuk lulus dan mendapat ijazah.
2.    Secara Modern atau Luas Kurikulum diartikan sebagai keseluruhan pengalaman anak atau peserta didik saat ada di dalam kelas maupun di luar kelas yang mempunyai tujuan dan berada di bawah tanggung jawab sekolah.
Dan juga kurikulum menurut Para Ahli
1.      Crow and Crow Kurikulum adalah Rancangan Pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.
2.      Carter V. Good Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang bersifat sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial, kurikulum pendidikan fisika.
3.      Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di bawah bimbingan guru.
4.      Ronald C. Doll Kurikulum sekolah adalah konten dan proses formal maupun non formal di mana pebelajar memperoleh pengetahuan dan pemahaman, perkembangan skil, perubahan tingkah laku, apresiasi, dan nilai-nilai di bawah bantuan sekolah
Jadi dapat disimpulkan: Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan
Adapun Pengertian dari Buku Teks Secara definis i adalahsarana belajar yang digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami. (buckingham, 1958) Buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan dikelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi (bacon, 1935)
B.       Batasan-BatasanKurikulum
1.    KurikulumsebagaiSuatu Program Kegiatan yang Terencana
Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang direncanakan untuk dapat  dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya (Saylor, Alexander, dan Lewis, 1986). Pada hakikatnya, kurikulum bersifat sebagai suatu program kegiatan terencana (program of planned activities) memiliki rentang yang cukup luas, hingga membentuk suatu pandangan yang menyeluruh. Di suatu pihak, kurikulum dipandang sebagai suatu dokumen tertulis (Beaucham, 1981) dan di lain pihak, kurikulum dipandang sebagai rencana yang tidak tertulis yang terdapat dalam pikiran pihak pendidik (Taylor, 1970).
2.    Kurikulum sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
Beberapa penulis kurikulum (Johnson, 1977 dan Posner, 1982) menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas, tetapi difokuskan secara langsung pada berbagai hasil belajar yang diharapkan (intended learning outcomes). Kajian ini menekankan perubahan cadra pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan dicapai (ends). Ssalah satu alasan utama adalah karena hasil belajar yang diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan kegiatan pembelajaran.
di Dalam konteks ini, tujuan pembelajaran tidak lagi dirumuskan dalam retorika global seperti “Siswa memiliki apresiasi terhadap warisan budaya”, tetapi dirumuskan dalam serangkaian hasil belajar yang terstruktur. Artinya, setiap kegiatan, pengajaran, desain lingkungan, dan sebagainya, difungsikan sedemikian rupa sehingga saling mendukung untuk mencapai tujuan akhir (ends) yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam pandangan ini, hasil belajar yang diharapkan tersebut tidak dapat disamakan dengan kurikulum itu sendiri, tetapi lebih merupakan dunia (realms) kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan akhir (hasil belajar) yang diharapkan.

3.    Kurikulum sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
Sebagian pakar ahli pendidikan berpandangan bahwa kurikulum dalam setiap masyarakat atau budaya seharusnya menjadi refleksi dari budaya masyarakat itu sendiri. Sekolah bertugas untuk memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting bagi generasi penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggung jawab mengidentifikasi ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan berbagai apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak pendidik profesional bertanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan apresiasi tersebut telah ditransformasikan ke dalam kurikulum yang dapat disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda.
Beberapa contoh dari pandangan kurikulum sebagai reproduksi kultural ini adalah berbagai peristiwa partriotik dalam sejarah nasional, sistem ekonomi yang dominan (komunistik atau kapitalistik), berbagai konvensi kebudayaan, kebiasaan, dan aturan adat istiadat (lores & folkways), serta nilai-nilai agama yang ada di berbagai sekolah yang bernaung di bawah lembaga keagamaan seperti parochical school dan sekolah-sekolah umum. Pengembangan kurikulum seperti gaya ini dimaksudkan untuk meneruskan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus melalui lembaga penerus.
Pada mulanya, model kurikulum ini dikembangkan dalam masyarakat industri, ketika para orang tua tidak sempat lagi memberikan pelatihan pada anak-anak mereka, sehingga pelatihan tersebut di percayakan kepada lembaga-lembaga pendidikan, baik yang dikelola lembaga agama tertentu seperti parochial school, maupun yang dikelola oleh pemerintah dalam bentuk sekolah umum. Model pengembangan kurikulum semacam ini lebih dikenal sebagai model kurikulum berbasis masyarakat atau curriculum-based community (CBC)
4.        Kurikulum sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrit
Pandangan ini berpendapat bahwa kurikulum merupakan satu kumpulan tugas dan konsep (discrete tasks and concept) yang harus dikuasai oleh setiap siswa. Dalam hal ini, dapat diasumsikan bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri) tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki interpretasi behavioral yang spesifik, misalnya mempelajarai suatu tugas baru atau dapat melakukan sesuatu yang lebih baik. Pendekatan seamacam ini berkembang dari program-program training dalam bisnis, industry, serta kemiliteran.
5.        Kurikulum sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
Sejauh mana keberanian sekolah dalam membangun suatu tatanan sosial yang baru (Dare the school build a new social order)? Pertanyaan ini merupakan judul karya George S. Counts (1932) seorang  yang dipandang sebagai salah seorang perintis rekonstruksionisme sosial dalam pendidikan. Ide Counts tersebut banyak diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam decade 1940-an dan 1950-an, yang banyak terinspirasi pemikiran Dewey. Pandangan ini berpendapat bahwa sekolah harus mempersiapkan suatu agenda pengetahuan dan nilai-nilai yang diyakini dapat menuntun siswa memperbaiki masyarakat dan institusi kebudayaan, serta berbagai keyakinan dan kegiatan praktik yang mendukungnya.
6.        Kurikulum sebagai Currere
Salah satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi kurikulum adalah pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kurikulum itu sendiri, yaitu currere. Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau lomba (race course) kurikulum, currere merujuk pada jalannya lomba dan menekankan masing-masing kapasitas individu untuk merekonseptualisasi otobiografinya sendiri. Hal ini ditegaskan oleh Scubert (1986) sebagaimana dalam kutipan berikut:“Instead of taking to the interpretation from the race course etymology of curriculum, currere refers to the running of the race and emphasis the individual’s own capacity to reconceptualize his or her autobiography”.
Pemikiran Schubert tersebut didukung oleh Pinar dan Grummet (1976) yang mengilustrasikan bahwa masing-masing individu berusaha menemukan pengertian (meaning) di tengah-tengah berbagai peristiwa terakhir yang dialaminya, kemudian bergerak secara historis ke dalam pengalamannya sendiri di masa lampau untuk memulihkan dan membentuk kembali pengalaman semula (to recover and reconstitute the origins), serta membayangkan dan menciptakan berbagai arah yang saling bergantung dengan subdivis-subdivisi pendidikan lainnya.
Dalam konteks ini, perlu dipertimbangkan perspektif ekologis, yaitu makna dari segala sesuatu harus dipandang secara kontinyu berikut interdependensinya dengan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhinya. Dengan demikian, karakter kurikulum membentuk dan dibentuk oleh berbagai hubungan eksternal dengan pengetahuan, perspektif dan praktik-praktik dalam domain kependidikan lainnya seperti administrasi, supervisi, dasar-dasar pendidikan (sejarah dan filsafat pendidikan, termasuk sosiologi, politik, ekonomi, antropologi, bahkan perspektif sastra), studi kebijakan, evaluasi, metodologi penelitian, subject areas, jenjang dan tingkatan pendidikan, pengajaran, pendidikan khusus, psikologi pendidikan, dan sebagainya. Oleh karena beberapa di antara bidang di atas memiliki relevansi langsung dengan kurikulum jika dibandingkan dengan bidang lainnya, maka bidang-bidang yang lebih relevan tersebut perlu dianalisis secara lebih luas dan mendalam.
C.        AnalisisIsi Batasan Kurikulum
Isi kurikulum adaIah berbagai pengetahuan dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada anak untuk mencapai tujuan pendidikan yang di inginkan. Dalam menentukan isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan maupun pengalaman belajar disesuaikan dengan tingkat dan jenjang pendidikan, perkembangan masyarakat, (tuntutan dan kebutuhan), perkembangan iptek.
Ada tiga pengetahuan dasar manusia yang harus diketahui yaitu pengetahuan tentang benar salah (logika), pengetahuan baik-buruk (etika), dan pengetahuan yang berkenaan dengan indah-jelek (estetika),
Ada tiga kategori cabang ilmu pengetahuan yaitu: llmu Pengetahuan Alam, ilmu Pengetahuan Sosial, dan ilmu Pengetahuan Humaniora. ilmu pengetahuan mana yang pantas dan sesuai untuk diberikan pada anak sesuai dengan jenjang tertentu. Untuk memilih jenis pengetahuan dan pengalaman belajar yang tepat diperlukan kriteria yang jelas.
Ada beberapa alas an mengapa perlu dilakukan pilihan dalam menentapkan isi kurikulum, antara lain:
1.      Tugas dan tanggung jawab sekolah untuk  mencerdaskan anak waktunya sangat terbatas. Padahal proses pendidikan dan pencerdasan berlangsung terus menerus sepanjang hayat. Karena keterbatasan tersebut menuntut penting nya seleksi isi kurikulum sebagai program pendidikan.
2.      Perkembangan dan tuntutan masyarakat selalu berubah. Apa yang diajarkan hari ini mungkin tidak memadai lagi untuk hari esok.
3.      Adanya jenjang serta jenis pendidikan menunut kesesuaian isi kurikulun, yang sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tersebut,
4.      Pendidikan di sekolah merupakan bagian dan pendidikan seumur hidup. Dengan demikian pendidikan di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak terpisahkan satu sama  lainnya,
Bila kita harus memilih isi kurikulum, maka kriteria yang bias digunakan adalah :
1.      Isi kurikulum harus sesuai, dengan tepat dan bermakna  bagi perkembangan siswa artinya sejalan dengan tahap perkembangan anak.
2.      Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengantuntutan hidup nyata dalam masyarakat.
3.      Isi kurikulum dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual, moral, sosial secara seimbang.
4.      Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari.
5.      Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat didalamnya, bukan hanya informasi aktual.Isi kurikulum harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan
D.       Batasan-batasan Buku Teks
Greene dan Petty membagi  keterbatasan-keterbatasan buku teks yaitu sebagai berikut:
a.         Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar (walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tapi merupakan suatu sarana pengajaran.
b.         Isi yang disajikan sebagai perangkat-perangkat kegiatan belajar yang dipadu secara artifisial atau secara buatan saja bagi setiap kelas tertentu.
c.         Latihan-latihan dan tugas-tugas praktis agaknya kurang kuat atau kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktek-praktek, latihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan.
d.        Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit dan singkat karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, serta wadah yang tersedia di dalamnya.
e.       Bantuan-bantuan yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang diinginkan.

BAB III
PENUTUP
A.        Kesimpulan
a.    Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan dikelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi (bacon, 1935).
b.    Batasan-BatasanKurikulum
a.       Kurikulum sebagai Suatu Program Kegiatan yang Terencana
b.      Kurikulum sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
c.       Kurikulum sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
d.      Kurikulum sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrit
e.       Kurikulum sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
f.        Kurikulum sebagai Currere
c.     AnalisisIsi Batasan Kurikulum
1.      Isi kurikulum harus sesuai, dengan tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa artinya sejalan dengan tahap perkembangan anak.
2.      Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata dalam masyarakat.
3.      Isi kurikulum dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual, moral, sosial secara seimbang.
4.      Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari.
5.      Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat didalamnya, bukan hanya informasi aktual.Isi kurikulum harus dapat menunjang  tercapainya tujuan pendidikan
d.    Batasan-batasan Buku Teks
a.         Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar (walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tapi merupakan suatu sarana pengajaran.
b.        Isi yang selau disajikan sebagai perangkat-perangkat kegiatan belajar dipadu secara artifisial atau secara buatan saja bagi setiap kelas tertentu.
c.         Latihan-latihan serta tugas-tugas praktis agaknya kurang adekuat atau kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktek-praktek, latihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan.
d.        Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit serta singkat karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, atau wadah yang tersedia di dalamnya.
e.         bantuan-bantuan yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang diinginkan.

























EmoticonEmoticon