PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagai guru Agama
setiap mengajar hampir tidak bisa lepasdenganbuku khususnyabukuteks.Dalam
buku teks dimuat materi atau pokok bahasan sesuai dengan rencana yang ada dalam
kurikulum, Karenanya setiap buku teks selalu disusun berdasarkan kurikulum yang
dipergunakan.Bila tidak ada buku teks anak-anak banyak menghabiskan
waktu untuk mencatat, yang akibatnya bias mengurangi pencapaian tujuan kurikulum.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian
Kurikulum dan Buku Teks ?
2.
Apa Saja Batasan
Kurikulum ?
3.
Apa Analisis
Batasan Kurikulum ?
4.
Apa saja batasan
buku teks ?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertiankurikulumdanbukuteks
2.
Untuk mengetahui
batasan kurikulum
3.
Untuk mengetahui
analisis batasan kurikulum
4.
Untuk mengetahui batasan buku teks
?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kurikulum
Dan Buku Teks
Pengertian
Kurikulum secara terminologi dibagi menjadi dua yaitu:
1.
Secara Tradisional atau Sempit Kurikulum diartikan
sebagai subjek atau mata pelajaran yang wajib dikuasai anak didik secara kognitif
untuk lulus dan mendapat ijazah.
2.
Secara Modern atau Luas Kurikulum diartikan sebagai
keseluruhan pengalaman anak atau peserta didik saat ada di dalam kelas maupun
di luar kelas yang mempunyai tujuan dan berada di bawah tanggung jawab sekolah.
Dan juga kurikulum menurut
Para Ahli
1.
Crow and Crow Kurikulum adalah Rancangan Pengajaran
atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan
suatu program untuk memperoleh ijazah.
2.
Carter V. Good Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang bersifat sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi
dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial, kurikulum
pendidikan fisika.
3.
Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell
Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di bawah bimbingan guru.
4.
Ronald C. Doll Kurikulum sekolah adalah konten dan proses
formal maupun non formal di mana pebelajar memperoleh pengetahuan dan
pemahaman, perkembangan skil, perubahan tingkah laku, apresiasi, dan
nilai-nilai di bawah bantuan sekolah
Jadi dapat disimpulkan:
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan
oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran
yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang
pendidikan
Adapun Pengertian dari Buku Teks Secara definis i adalahsarana
belajar yang digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk
menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum
dipahami. (buckingham, 1958) Buku teks adalah buku yang dirancang buat
penggunaan dikelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar dalam
bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan
serasi (bacon, 1935)
B.
Batasan-BatasanKurikulum
1.
KurikulumsebagaiSuatu Program Kegiatan yang
Terencana
Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap
setiap kegiatan yang direncanakan untuk dapat dialami seluruh siswa, kurikulum
berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject
matter, teknik mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya
(Saylor, Alexander, dan Lewis, 1986). Pada hakikatnya, kurikulum bersifat sebagai suatu
program kegiatan terencana (program of planned activities) memiliki
rentang yang cukup luas, hingga membentuk suatu pandangan yang menyeluruh. Di
suatu pihak, kurikulum dipandang sebagai suatu dokumen tertulis (Beaucham,
1981) dan di lain pihak, kurikulum dipandang sebagai rencana yang tidak
tertulis yang terdapat dalam pikiran pihak pendidik (Taylor, 1970).
2. Kurikulum
sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
Beberapa
penulis kurikulum (Johnson, 1977 dan Posner, 1982) menyatakan bahwa kurikulum
seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas, tetapi difokuskan secara langsung
pada berbagai hasil belajar yang diharapkan (intended learning outcomes).
Kajian ini menekankan perubahan cadra pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai
alat (means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan
dicapai (ends). Ssalah satu alasan utama adalah karena hasil belajar
yang diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan
kegiatan pembelajaran.
di Dalam
konteks ini, tujuan pembelajaran tidak lagi dirumuskan dalam retorika global
seperti “Siswa memiliki apresiasi terhadap warisan budaya”, tetapi dirumuskan
dalam serangkaian hasil belajar yang terstruktur. Artinya, setiap kegiatan,
pengajaran, desain lingkungan, dan sebagainya, difungsikan sedemikian rupa
sehingga saling mendukung untuk mencapai tujuan akhir (ends) yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dalam pandangan ini, hasil belajar yang diharapkan
tersebut tidak dapat disamakan dengan kurikulum itu sendiri, tetapi lebih
merupakan dunia (realms) kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
akhir (hasil belajar) yang diharapkan.
3. Kurikulum
sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
Sebagian pakar ahli pendidikan berpandangan bahwa kurikulum dalam setiap masyarakat atau
budaya seharusnya menjadi refleksi dari budaya masyarakat itu sendiri. Sekolah
bertugas untuk memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting bagi generasi
penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggung jawab mengidentifikasi
ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan berbagai
apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak pendidik profesional
bertanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan
apresiasi tersebut telah ditransformasikan ke dalam kurikulum yang dapat
disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda.
Beberapa
contoh dari pandangan kurikulum sebagai reproduksi kultural ini adalah berbagai
peristiwa partriotik dalam sejarah nasional, sistem ekonomi yang dominan (komunistik
atau kapitalistik), berbagai konvensi kebudayaan, kebiasaan, dan aturan adat
istiadat (lores & folkways), serta nilai-nilai agama yang ada di
berbagai sekolah yang bernaung di bawah lembaga keagamaan seperti parochical
school dan sekolah-sekolah umum. Pengembangan kurikulum seperti gaya ini
dimaksudkan untuk meneruskan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus
melalui lembaga penerus.
Pada
mulanya, model kurikulum ini dikembangkan dalam masyarakat industri, ketika
para orang tua tidak sempat lagi memberikan pelatihan pada anak-anak mereka,
sehingga pelatihan tersebut di percayakan kepada lembaga-lembaga pendidikan,
baik yang dikelola lembaga agama tertentu seperti parochial school, maupun yang
dikelola oleh pemerintah dalam bentuk sekolah umum. Model pengembangan
kurikulum semacam ini lebih dikenal sebagai model kurikulum berbasis masyarakat
atau curriculum-based community (CBC)
4.
Kurikulum
sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrit
Pandangan
ini berpendapat bahwa kurikulum merupakan satu kumpulan tugas dan konsep (discrete
tasks and concept) yang harus dikuasai oleh setiap siswa. Dalam hal ini, dapat diasumsikan
bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri)
tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki interpretasi behavioral yang spesifik,
misalnya mempelajarai suatu tugas baru atau dapat melakukan sesuatu yang lebih
baik. Pendekatan seamacam ini berkembang dari program-program training dalam
bisnis, industry, serta kemiliteran.
5.
Kurikulum
sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
Sejauh
mana keberanian sekolah dalam membangun suatu tatanan sosial yang baru (Dare the
school build a new social order)? Pertanyaan ini merupakan judul karya
George S. Counts (1932) seorang yang dipandang sebagai salah seorang perintis
rekonstruksionisme sosial dalam pendidikan. Ide Counts tersebut banyak
diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam decade 1940-an dan 1950-an, yang
banyak terinspirasi pemikiran Dewey. Pandangan ini berpendapat bahwa sekolah
harus mempersiapkan suatu agenda pengetahuan dan nilai-nilai yang diyakini
dapat menuntun siswa memperbaiki masyarakat dan institusi kebudayaan, serta
berbagai keyakinan dan kegiatan praktik yang mendukungnya.
6.
Kurikulum
sebagai Currere
Salah
satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi kurikulum adalah pandangan
yang menekankan pada bentuk kata kerja kurikulum itu sendiri, yaitu currere.
Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau lomba (race
course) kurikulum, currere merujuk pada jalannya lomba dan
menekankan masing-masing kapasitas individu untuk merekonseptualisasi
otobiografinya sendiri. Hal ini ditegaskan oleh Scubert (1986) sebagaimana
dalam kutipan berikut:“Instead of taking to the interpretation from the race
course etymology of curriculum, currere refers to the running of the race and
emphasis the individual’s own capacity to reconceptualize his or her
autobiography”.
Pemikiran
Schubert tersebut didukung oleh Pinar dan Grummet (1976) yang mengilustrasikan
bahwa masing-masing individu berusaha menemukan pengertian (meaning) di
tengah-tengah berbagai peristiwa terakhir yang dialaminya, kemudian bergerak
secara historis ke dalam pengalamannya sendiri di masa lampau untuk memulihkan
dan membentuk kembali pengalaman semula (to recover and reconstitute the
origins), serta membayangkan dan menciptakan berbagai arah yang saling
bergantung dengan subdivis-subdivisi pendidikan lainnya.
Dalam
konteks ini, perlu dipertimbangkan perspektif ekologis, yaitu makna dari segala
sesuatu harus dipandang secara kontinyu berikut interdependensinya dengan
kekuatan-kekuatan yang mempengaruhinya. Dengan demikian, karakter kurikulum
membentuk dan dibentuk oleh berbagai hubungan eksternal dengan pengetahuan,
perspektif dan praktik-praktik dalam domain kependidikan lainnya seperti
administrasi, supervisi, dasar-dasar pendidikan (sejarah dan filsafat
pendidikan, termasuk sosiologi, politik, ekonomi, antropologi, bahkan
perspektif sastra), studi kebijakan, evaluasi, metodologi penelitian, subject
areas, jenjang dan tingkatan pendidikan, pengajaran, pendidikan khusus,
psikologi pendidikan, dan sebagainya. Oleh karena beberapa di antara bidang di
atas memiliki relevansi langsung dengan kurikulum jika dibandingkan dengan
bidang lainnya, maka bidang-bidang yang lebih relevan tersebut perlu dianalisis
secara lebih luas dan mendalam.
C.
AnalisisIsi Batasan Kurikulum
Isi kurikulum adaIah berbagai pengetahuan
dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada anak untuk mencapai tujuan
pendidikan yang di inginkan. Dalam menentukan isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan
maupun pengalaman belajar disesuaikan dengan tingkat
dan jenjang pendidikan, perkembangan masyarakat, (tuntutan dan kebutuhan), perkembangan
iptek.
Ada tiga pengetahuan dasar manusia yang harus diketahui yaitu
pengetahuan tentang benar salah (logika), pengetahuan baik-buruk (etika), dan pengetahuan
yang berkenaan dengan indah-jelek (estetika),
Ada tiga kategori
cabang ilmu pengetahuan yaitu: llmu Pengetahuan Alam, ilmu Pengetahuan Sosial, dan
ilmu Pengetahuan Humaniora. ilmu pengetahuan mana yang pantas dan sesuai untuk
diberikan pada anak sesuai dengan jenjang tertentu. Untuk memilih jenis pengetahuan dan
pengalaman belajar yang tepat diperlukan kriteria yang jelas.
Ada beberapa alas an mengapa perlu
dilakukan pilihan dalam menentapkan isi kurikulum, antara lain:
1.
Tugas dan tanggung
jawab sekolah untuk mencerdaskan
anak waktunya sangat terbatas. Padahal proses pendidikan dan pencerdasan berlangsung
terus menerus sepanjang hayat. Karena keterbatasan tersebut menuntut penting nya
seleksi isi kurikulum sebagai program pendidikan.
2.
Perkembangan dan
tuntutan masyarakat selalu berubah. Apa yang diajarkan hari ini mungkin tidak
memadai lagi untuk hari esok.
3.
Adanya jenjang serta jenis pendidikan menunut kesesuaian isi kurikulun, yang sesuai dengan jenjang
dan jenis pendidikan tersebut,
4.
Pendidikan di
sekolah merupakan bagian dan pendidikan seumur hidup. Dengan demikian
pendidikan di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak terpisahkan satu sama lainnya,
Bila kita harus memilih isi kurikulum,
maka kriteria yang bias digunakan adalah :
1.
Isi kurikulum
harus sesuai, dengan tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa artinya
sejalan dengan tahap perkembangan anak.
2.
Isi kurikulum
harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengantuntutan hidup nyata
dalam masyarakat.
3.
Isi kurikulum
dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual,
moral, sosial secara seimbang.
4.
Isi kurikulum
harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk
hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari.
5.
Isi kurikulum
mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat
didalamnya, bukan hanya informasi aktual.Isi kurikulum harus dapat menunjang
tercapainya tujuan pendidikan
D.
Batasan-batasan Buku Teks
Greene dan Petty membagi keterbatasan-keterbatasan buku teks yaitu sebagai berikut:
a.
Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar
(walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tapi merupakan suatu sarana pengajaran.
b.
Isi
yang disajikan sebagai perangkat-perangkat kegiatan belajar yang dipadu secara
artifisial atau secara buatan saja bagi setiap kelas tertentu.
c.
Latihan-latihan dan tugas-tugas praktis
agaknya kurang kuat atau kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan
dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktek-praktek,
latihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan.
d.
Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit
dan singkat karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, serta wadah yang
tersedia di dalamnya.
e. Bantuan-bantuan
yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah
mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang diinginkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
a. Kurikulum adalah perangkat
mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga
penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan
kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Buku teks adalah buku yang
dirancang buat penggunaan dikelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para
pakar dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang
sesuai dan serasi (bacon, 1935).
b. Batasan-BatasanKurikulum
a.
Kurikulum sebagai Suatu Program Kegiatan yang
Terencana
b.
Kurikulum
sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
c.
Kurikulum
sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
d.
Kurikulum
sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrit
e.
Kurikulum
sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
f.
Kurikulum
sebagai Currere
c.
AnalisisIsi Batasan Kurikulum
1.
Isi kurikulum
harus sesuai, dengan tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa artinya
sejalan dengan tahap perkembangan anak.
2.
Isi kurikulum
harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata
dalam masyarakat.
3.
Isi kurikulum
dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual,
moral, sosial secara seimbang.
4.
Isi kurikulum
harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk
hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari.
5.
Isi kurikulum
mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat
didalamnya, bukan hanya informasi aktual.Isi kurikulum harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan
d.
Batasan-batasan Buku
Teks
a.
Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar
(walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tapi
merupakan suatu sarana pengajaran.
b.
Isi yang selau disajikan sebagai
perangkat-perangkat kegiatan belajar dipadu secara artifisial atau secara
buatan saja bagi setiap kelas tertentu.
c.
Latihan-latihan serta tugas-tugas praktis
agaknya kurang adekuat atau kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan
dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktek-praktek,
latihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan.
d.
Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit
serta singkat karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, atau wadah yang
tersedia di dalamnya.
e.
bantuan-bantuan
yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah
mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang diinginkan.

EmoticonEmoticon