BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi
manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan
sehari-hari di rumah ditempat kerja, pasar, masyarakat, atau dimanapun manusia
berada. Tidak ada manusia yang tidak ada terlibat dalam komunikasi.
Komunikasi begitu sangat penting dalam kehidupan manusia, karena
harus diakui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa komunikasi karena manusia
adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, dengan
berkomunikasi secara efektif maka, kegitan-kegitan yang sering dilakukan
manusia bisa berjalan dengan baik. Tanpa adanya komunikasi dengan baik
mengakibatkan ketidak teraturan dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik itu
di rumah maupun dalam suatu organisasi, perusahaan dan dimanapun manusia itu
berada.
Pengertian dari komunikasi menurut devinisi Hovland, ilmu
komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asasasas
penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Definisi diatas
meunjukkan bahwa yang dijadikan obyek studi ilmu komunikasi bukan saja
menyampaikan informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (publik
opinion ) dan sikap publik (publik attitude) yang dalam kehidupan
sosial dan kehidupan politik memainkan peranan yang sangat penting. Bahkan dalam
definisinya yang sanagat khusus mengenai pengertian komunikasi itu sendiri,
Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah prilaku orang lain1.
Dengan seiring zaman perkembangan komunikasi sangat pesat dan cepat
sehingga banyak dijumpai bidang komunikasi. Salah satunya adalah bidang
komunikasi yang menyangkut kehidupan sosial adalah komunikasi organisasi atau
manajemen publik relation atau humas yang merupakan sebagai bentuk perkembangan
komunikasi.
B.
RumusanMasalah
Berdasarkan uraian yang
terdapat pada latar belakang,
maka dapat di
buat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa Pengertian
Teknik Komunikasi Informatif ?
2. Apa Pengertian
Teknik Komunikasi Instruktif ?
3. Apa Pengertian
Teknik Komunikasi Persuasif ?
4. Apa Pengertian
Teknik Komunikasi Dialogis ?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui Pengertian Teknik Komunikasi Informatif
2.
Mengetahui Pengertian Teknik
Komunikasi Instruktif
3.
Mengetahui Pengertian Teknik
Komunikasi Persuasif
4.
Mengetahui Pengertian Teknik
Komunikasi Dialogis
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teknik Komunikasi Informatif
Istilah
komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu communicates
yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya communis yang
bermakna umum atau bersama-sama. Dengan demikian komunikasi menurut
Lexicographer (ahli kamus bahasa), menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan
berbagi untuk mencapai kebersamaan (Marhaeni Fajar, 2009:31).
Proses
komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya,
sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan
komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi
yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi
banyak melalui perkembangan. Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada
interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif
komunikasi.
Problem
komunikasi biasanya merupakan suatu gejala bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Problem komunikasi menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam. Hambatan
komunikasi ada yang berasal dari pengirim (komunikator), transmisi, dan
penerima.
Marhaeni
Fajar (2009:62) menagatakan bahwa hambatan dalam komunikasi antara lain :
1.
Hambatan dari Proses Komunikasi
2.
Hambatan Fisik
3.
Hambatan Semantik
4.
Hambatan Psikologis
Teknik
komunikasi informatif adalah suatu teknik penyampaian pesan kepada seseorang
atau sejumlah orang tentang hal-hal baru yang diketahuinya. Teknik ini berdampak
kognitif pasalnya komunikan hanya mengetahui saja. Seperti halnya dalam
penyampaian berita dalam media cetak maupun elektronik pada teknik informatif
ini berlaku komunikasi satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat
umum, medianya menimbulkan keserempakan serta komunikannya heterogen. Biasanya
teknik informatif yang digunakan oleh media bersifat asosiasi yaitu dengan cara
menumpangkan penyajian pesan pada objek atau peristiwa yang sedang menarik
perhatian khalayak.
Ciri
khas pesan informatif yakni sebagai berikut :
1.
Berdasarkan fakta,
2.
Tidak mengada-ada,
3.
Jelas dan to the point,
4.
Terperinci,
5.
Pesan ditijukan untuk khalayak banyak untuk perluasan wawasan
B.
Teknik Komunikasi Informatif
Dalam Webster’s Thrid new International Dictionary of the English
Language mencantumkan kata instructional (dari kata to instruct) dengan
arti memberikan pengetahuan dalam berbagai seni atau spesialisasi
tertentu atau dapat berarti pula “mendidik bidang pengetahuan tertentu” (Yusup,
1989:18). Pengertian komunikasi instruksional lainnya dikemukakan oleh
Lashbrook dan Wheeless, (dalam Nimmo, 1979:525), “Komunikasi
instruksional sebagai studi komunikasi yang terdiri dari berbagai
variabel seperti strategi, proses, teknologi dan atau suatu sistem yang berhubungan
dengan formal dan penguasaan materi serta modifikasi hasil belajar (the study
of communication variables, strategies, technologies, and or system asa relate
to formal instrruction and acquisition and modificaton of learning outcomes).
Selanjutnya Yusup (1989:22)
menjelaskan bahwa komunikasi dalam sistem
instruksional
ini kedudukannya dikembangkan kepada fungsi asalnya, sebagai alat
untuk
mengubah perilaku sasaran yaitu peserta didik. Proses komunikasi diciptakan
secara
wajar, akrab, dan terbuka dengan ditunjang faktor-faktor pendukung lainnya,
baik
secara sarana maupun fasilitas lain dengan tujuan supaya mempunyai efek perubahan
perilaku pada pihak sasaran.
C. Teknik Komunikasi Persuasif.
Kenneth E. Anderson (1972:218), menyatakan bahwa
komunikasi persuasif merupakan proses komunikasi antar individu.
Komunikasi tersebut terjadi di mana komunikator mengunakan simbol-simbol untuk
mempengaruhi pikiran si penerima sebagai dengan sendirinya, komunikator dapat
merubah tingkah laku dan perbuatan audiens.
Lain
halnya dalam buku yang ‘Komunikasi Antarmanusia’ yang dijelaskan oleh De
Vito. De Vito menyatakan bahwa komunikasi persuasif
merupakan komunikasi bertujuan untuk menengahkan pembicaraan yang sifatnya
memperkuat. Kemudian, memberikan ilustrasi dan menyodorkan informasi kepada
khalayak. Akan tetapi, tujuan pokoknya adalah menguatkan atau mengubah sikap
dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat dan himbauan motivasional
harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya. Dari penjelasan tersebut, De
Vito mengemukakan terdapat dua macam tujuan atau tindakan yang ingin dicapai
dalam melakukan komunikasi persuasif. Tujuan tersebut dapat berupa untuk
mengubah sikap atau perilaku receiver atau untuk memotivasi perilaku receiver
Terdapat beberapa bentuk komunikasi
persuasif, diantaranya:
1.
Iklan, Di
dalam iklan, komunikasi persuasfi sering kali komunikasi jenis ini
dimanfaatkan sebagai bentuk kegiatan pemasran. Karena, iklan sendiri merupakan
bagian dari jenis promosi. Sehingga, iklan merupakan bagian kecil dari
aktivitas promosi yang lebih luas. Iklan inilah yang menggunakan komunikasi
persuasif sebagai bahasa mengajak para calon pelanggan untuk menggunakan
produknya.
2.
Dakwah, Dakwah
merupakan aktivitas yang bersifat menyerukan seperti layaknya orasi namun
sifatnya mengajak orang-orang untuk berjalan ke jalan yang benar. Sehingga,
aktivitas ini memerlukan bahasa persuasif yang dapat membuat orang yang
mendengar pesan tersebut menjadi ikut pengaruh dalam bahasa dan kata-kata yang
disampaikan. Aktivtas inilah yang kerap kali dilupakan kalau menggunakan
persuasif tapi bukan dogmatis.
3.
Pamflet, Pamflet
merupakan bentuk komunikasi persuasif secara verbal yang berbentuk tulisan.
Bentuk ini sebenarnya masuk ke dalam kategori iklan. Namun, pada umumnya di
jaman sekarang menjadi paradigma dalam bentuk audio visual. Di dalam pamflet
pastinya berunsur iklan yang bersifat mengajak, sehingga pamflet merupakan
salah satu bentuk komunikasi persuasif.
Segala
sesuatu pasti ada sebab-musababnya. Sama halnya komunikasi persuasif yang
memiliki penyebabnya. Penyebabnya ini yang dinamakan sebagai faktor-faktor yang
mempengaruhi. Komunikasi persuasif yang berhasil diterapkan, pasti memiliki
beberapa faktor. Dan faktor-faktor itu di antaranya :
1. Seorang komunikator
yang mempunyai kredibilitas tinggi merupakan seorang komunikator yang mempunyai
pengetahuan tentang apa yang disampaikannya. Sehingga pesan akan tersampaikan
secara jelas dan teratur.
2. Pesan haruslah
masuk akal agar dapat diterima oleh seorang komunikan yang sebenarnya belum
dipahami sama sekali olehnya.
3. Pengaruh lingkungan pun juga dapat mempengaruhi berhasil atau
tidaknya kegiatan komunikasi persuasfi ini. Karena, pengaruh lingkungan akan
memberikan atmosfir yang mana atmosfir tersebut dapat mempengaruhi pola pikir
seseorang, yaitu seorang komunikan.
4. Pengertian
dan kesinambungan suatu pesan. Itu sebabnya, pesan harus masuk di akal atau
logika yang benar.
Segala sesuatu, pasti ada
maksud dan tujuan tertentu. Tujuan inilah nantinya yang digunakan sebagai
target suatu kegiatan. Sehingga terbentuklah perencanaan untuk menuju tujuan
tersebut. Sebenarnya, komunikasi persuasif ini merupakan bentuk teknik dalam
berkomunikasi. Sehingga, tujuan adanya komunikasi persuasif ini di antaranya :
·
Perubahan sikap (attitude
change), komunikasi persuasif ini diharapkan dapat mengubah pola pikir yang
mana pola pikir ini membuat komunikan mengubah sikapnya terhadap pesan apa yang
diterimanya.
·
Perubahan pendapat (opinion
change), seorang komunikan pastinya memiliki pendapat atau anggapan yang
berbeda dari seorang komunikator. Sehingga, perlu adanya komunikasi persuasif
ini sebagai alat mengubahnya pola pikir komunikan yang membuat komunikan ini
mengikuti pendapat atau anggapan yang disampaikan oleh seorang komunikator. Baca
·
Perubahan perilaku (behavior
change), perubahan sikap ini sebenarnya masuk ke dalam kategori perubahan
sikap. Namun, perilaku ini merupakan suatu dampak dari sikap. Ketika sikap
berubah, maka perilaku pada seseorang atau komunikan pun juga ikut berubah
mengikuti pola pikir dari pesan yang ia terima.
·
Perubahan sosial (sosial
change). Perubahan sosial inilah yang merupakan salah satu dampak dari
adanya bahasa yang persuasif. Komunikator yang berbahasa persuasif akan membawa
perubahan dalam lingkungan masyarakat, pola pikir, hingga perilaku masayarakat.
Hal ini dapat ditemukan pada seorang Lurah yang menyampaikan informasi
persuasif agar masyarakat desa mengikuti program pemerintah. Dengan adanya
bahasa yang persuasif yang bersifat mengajak ini, dapat mampu mengubah pola
pikir masyarakat desa untuk mengikuti program pemerintah yang disampaikan
seorang Lurah sebagai komunikator.
D. Pengertian Komunikasi Dialogis
Komunikasi dialogis adalah komunikasi dua arah
sehingga antar komunikator dan komunikan melakukan saling tukar informasi dan
respon sehingga isi/materi/substansi yang dibicarakan saling dipahami. Pada
pengertian lain disebutkan bahwa komunikasi verbal yang terjadi antara dua
pihak (pembicara dan pendengar) secara timbal balik. Jadi dalam komunikasi
dialogis, pembicara harus menyampaikan sesuatu untuk dipahami oleh pendengar
sebagaimana dimaksudkan oleh pembicara artinya tidak biasa atau tidak ada
perbedaan makna yang dimaksud oleh komunikator dan makna yang diterima oleh
komunikan. Untuk itu keaktifan komunikan dalam mendengarkan dan usaha
memahami isi pembicaraan sangat diperlukan. Bila diperlukan komunikan
perlu (seolah-olah) memposisikan diri sebagai komunikator agar lebih mudah
memahami apa yang dibicarakan.
Namun
demikian, untuk mencapai komunikasi dialogis seperti di atas,
beberapa kendala yang menghambat komunikasi dialogis yaitu :
1. Perlindungan (protectiveness),
menjaga informasi tertentu yang mengandung risiko bila disampaikan
2. Pertahanan (defensiveness),
seseorang yang diajak bicara pun bisa jadi tidak mau menerima informasi
(menolak untuk mendengar informasi yang disampaikan)
3. Kecenderungan
untuk meng-evaluasi (tendency to evaluate), seseorang yang menerima
informasi cenderung untuk me lakukan evaluasi atas informasi yang diperolehnya
4. Tidak
cocok dengan harapan (mismatched expections), pikiran manusia seringkali
hanya membatasi informasi yang cocok dengan harapannya
5. Waktu
sempit (insufficient time), keterbatasan waktu untuk menyampaikan informasi
secara menyeluruh
Anda
sebagai seorang fasilitator pada kegiatan pemberdayaan masyarakat, beberapa
kendala tersebut di atas akan sangat nyata dirasakan ketika mendampingi
masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Untuk itu, beberapa strategi yang
harus dikuasai untuk mengembangkan komunikasi dialogis yaitu :
a. Meningkatkan
keterampilan mendengarkan.
b. Membangun
keterbukaan.
c. Memberikan
kesempatan komunikasi empat mata.
d.Membangun
komunikasi yang menyentuh perasaan : menyangkut hal yang bersifat pribadi,
menyampaikan secara berulang-ulang, memberikan contoh konkrit.
Proses
komunikasi tidak melulu terjadi searah saja tetapi hampir semua jenis
komunikasi berjalan secara dialogis. Dimana komunikasi dialogis dapat diartikan
sebagai proses penyampaian pesan antarpersonal (antara satu orang dengan orang
lain) yang menunjukkan adanya interaksi. Komunikasi yang berlangsung secara
dialogis selalu lebih baik daripada monologis. Mereka yang terlibat dalam
komunikasi dialogis ini berfungsi ganda, artinya ada yang menjadi pembicara dan
pendengar secara bergantian sehinga teknik yang digunakan adalah teknik dialogis. Seperti contoh kita biasa
menggeleng-gelengkan kepala ketika
menyatakan suatu ketidaksetujuan, atau ketika kita menggunakan tangan
untuk menunjukkan suatu arah jalan bila ada orang yang bertanya.
Meskipun
komunikasi dialogis seringkali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, namun
secara praktis dalam kaitan dengan praktek komunikasi seringkali terjadi
disharmonisasi sehingga komunikasi berjalan tidak efektif. Komunikasi dialogis
yang terjadi bersifat dua arah tentunya memerlukan keahlian supaya komuikasi
dapat berjalan dengan efektif.
Komunikasi
dialogis memerlukan keterampilan khusus apalagi berhubungan dengan
profesionalitas. Kapan komunikasi dialogis harus dilakukan dapat ditinjau dari
kondisi berikut:
1. Apakah anak buah Anda sering datang
kepada Anda dan secara nyaman menyampaikan ”unek-unek” mereka?
2. Apakah Anda dan tim Anda bisa saling
menerima kritik tanpa mengambil sikap defensif?
3. Apakah Anda tahu rasa frustrasi,
masalah, keinginan, minat anggota tim Anda?
4. Apakah Anda sering menanyakan pendapat
atau masukan dari anggota tim tentang suatu keputusan yang akan Anda ambil?
5. Apakah dalam rapat dengan tim, ada
kebebasan menyatakan pendapat, memberi usulan dan saran?
Jika
sebagian besar jawaban Anda adalah ”tidak”, maka kemungkinan besar Anda perlu
membangun komunikasi dua arah. Namun, jika sebaliknya, jawaban Anda kebanyakan
adalah ”Ya”, Anda telah memupuk terjadinya komunikasi dua arah, namun tidak ada
salahnya untuk menyimak beberapa kendala komunikasi dan usulah strategi
komunikasi berikut.
Setelah
memahami berbagai kendala yang menghambat terjadinya komunikasi dua arah, kita
akan lebih mudah untuk menyusun strategi guna membangun komunikasi dua arah
tersebut. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dicoba.
1. Mendengar
Dalam
komunikasi dua arah, ada yang berbicara, dan ada yang mendengar. Yang sering
terjadi adalah tiap pihak saling menunggu kesempatan untuk berbicara tanpa
meluangkan waktu untuk mendengar apa yang disampaikan pihak lain (karena ia
sibuk menyiapkan apa yang akan disampaikan). Seringkali, banyak permasalahan
dapat terselesaikan justru bukan karena seseorang menjadi pembicara yang
handal, melainkan karena ia bersedia memahami orang lain dengan cara
mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan (keluhan, masalah, keinginan,
harapan). Informasi yang didengar inilah yang bisa dijadikan dasar untuk
menentukan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah.
2. Terbuka
Untuk
mendorong tiap pihak untuk saling terbuka, seorang pimpinan hendaknya tidak
menghukum orang yang menyampaikan pendapat, masalah, atau perasaannya.
Keterbukaan bisa juga dibuatkan wadahnya, yaitu melalui bulletin board, kotak
saran, atau media antarkaryawan. Karyawan yang menyampaikan pendapat atau ide
yang bisa dimanfaatkan perusahaan, bisa diberikan hadiah, atau penghargaan.
Demikian juga dengan karyawan yang bisa mengidentifikasi atau mengantisipasi
masalah serta mengusulkan alternatif pemecahannya.
4.
Menyamakan
persepsi.
Komunikasi
dua arah sering terhambat karena adanya perbedaan persepsi terhadap suatu
masalah. Dengan demikian, dalam berkomunikasi, ada baiknya disampaikan juga
latar belakang pemikiran dari ide yang disampaikan, sehingga orang lain juga
bisa memiliki persepsi yang sama, berangkat dari persepsi yang sama, atau
paling tidak memahami persepsi orang yang menyampaikan informasi tersebut. Jika
pemahaman sudah tergalang, maka komunikasi dua arah akan lebih mudah mengalir.
5. Komunikasi empat mata.
Banyak
juga karyawan yang enggan menyampaikan pendapat karena sungkan berbicara di
hadapan banyak orang, padahal mungkin saja karyawan tersebut memiliki ide yang
brilian. Seorang pimpinan bisa mencoba melakukan komunikasi dua arah terhadap
anak buahnya secara regular untuk memahami kebutuhan, ekspektasi, masalah
mereka. Dengan komunikasi empat mata, bawahan mungkin saja lebih nyaman
menyatakan pendapat atau menyampaikan permasalahan yang ditemuinya di lapangan.
Jadi, komunikasi empat mata penting untuk dilakukan dengan lebih sering, tidak
hanya ketika melakukan evaluasi kerja tahunan.
Membangun
komunikasi dua arah memerlukan keahlian-keahlian, sehingga perlu adanya
latihan. Kita dapat memberbanyak latihan dengan mencoba manakah yang efektif.
Melalui banyak berlatih dengan mengkombinasi beberapa strategi untuk mencapai
komunikasi dua arah dengan lebih mudah, dengan hasil yang lebih baik.
Dalam
hubungan dialogis, sikap dan perilaku setiap partisipan komunikasi ditandai
oleh kualitas, seperti kebersamaan, keterbukaan hati, kelangsungan, kejujuran,
spontanitas, keterusterangan, tidak berpura-pura, niat yang tidak manipulatif,
kerukunan, intensitas dan bertanggungjawab.
Thomas
Nilsen mengatakan bahwa untuk mencapai komunikasi dialogis yang etis perlu
dipupuk sikap-sikap berikut ini:
1. Penghormatan terhadap seseorang sebagai
person tanpa memandang umur, status, atau hubungan dengan pembicara.
2. Penghormatan terhadap ide, perasaan,
maksud, dan integritas orang lain.
3. Sikap suka memperbolehkan, keobjektifan,
dan keterbukaan pikiran, yang mendorong kebebasan berekspresi. Penghormatan
terhadap bukti dan pertimbangan yang rasional terhadap berbagai alternatif.
4. Terlebih dahulu mendengarkan dengan
hati-hati bersimpati sebelum menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan.
John
Mokay dan William Brown memberi sepuluh kondisi dialog yang dapat digunakan
sebagai pedoman etika untuk menentukan sejauh mana sikap-sikap dialogis
terungkap dalam transaksi komunikasi: Keterlibatan manusia dari kebutuhan yang
dirasakan untuk berkomunikasi.Suasana keterbukaan, kebebasan, dan
pertanggungjawaban.Berurusan dengan isu dan ide nyata yang relevan dengan
komunikator Apresiasi terhadap perbedaan dan keunikan individual. Penerimaan
terhadap ketidaksetujuan dan konflik dengan keinginan untuk menyelesaikannya.
Umpan balik yang efektif.Saling menghargai dan diharapkan saling mempercayai.
Ketulusan hati dan kejujuran dalam sikap terhadap komunikasi. Sikap yang
positif untuk pemahaman dan belajar. Kemauan menerima kesalahan dan membiarkan
persuasi.
BAB III
KESIMPULAN
Istilah komunikasi atau communication
berasal dari bahasa latin, yaitu communicates yang berarti berbagi
atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya communis yang bermakna umum
atau bersama-sama. Dengan demikian komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus
bahasa), menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai
kebersamaan (Marhaeni Fajar, 2009:31).
Dalam Webster’s Thrid new International Dictionary of the English
Language mencantumkan kata instructional (dari kata to instruct) dengan
arti memberikan pengetahuan dalam berbagai seni atau spesialisasi
tertentu atau dapat berarti pula “mendidik bidang pengetahuan tertentu”
(Yusup, 1989:18). Pengertian komunikasi instruksional lainnya
dikemukakan oleh Lashbrook dan Wheeless, (dalam Nimmo, 1979:525),
“Komunikasi instruksional sebagai studi komunikasi yang terdiri dari berbagai
variabel seperti strategi, proses, teknologi dan atau suatu sistem yang berhubungan
dengan formal dan penguasaan materi serta modifikasi hasil belajar (the study
of communication variables, strategies, technologies, and or system asa relate
to formal instrruction and acquisition and modificaton of learning outcomes).
Kenneth E. Anderson (1972:218), menyatakan bahwa
komunikasi persuasif merupakan proses komunikasi antar individu.
Komunikasi tersebut terjadi di mana komunikator mengunakan simbol-simbol untuk
mempengaruhi pikiran si penerima sebagai dengan sendirinya, komunikator dapat
merubah tingkah laku dan perbuatan audiens.
Komunikasi dialogis adalah komunikasi dua arah sehingga antar
komunikator dan komunikan melakukan saling tukar informasi dan respon sehingga
isi/materi/substansi yang dibicarakan saling dipahami.
Daftar pustaka
Efendy, Onong Uchjana. 1999. Ilmu
Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Efendy, Onong Uchjana. 2004. Dinamika
Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu
Komunikasi: Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Yusup, Pawit M. 1989. “Komunikasi
Pendidikan dan Komunikasi Instruksional”.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
http://digilib.unimed.ac.id/514/1/Komunikasi%20Intruksional.pdf
EmoticonEmoticon