Senin, 05 November 2018

makalah komunikasi

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah ditempat kerja, pasar, masyarakat, atau dimanapun manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak ada terlibat dalam komunikasi.
Komunikasi begitu sangat penting dalam kehidupan manusia, karena harus diakui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa komunikasi karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, dengan berkomunikasi secara efektif maka, kegitan-kegitan yang sering dilakukan manusia bisa berjalan dengan baik. Tanpa adanya komunikasi dengan baik mengakibatkan ketidak teraturan dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik itu di rumah maupun dalam suatu organisasi, perusahaan dan dimanapun manusia itu berada.
Pengertian dari komunikasi menurut devinisi Hovland, ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asasasas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Definisi diatas meunjukkan bahwa yang dijadikan obyek studi ilmu komunikasi bukan saja menyampaikan informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (publik opinion ) dan sikap publik (publik attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan peranan yang sangat penting. Bahkan dalam definisinya yang sanagat khusus mengenai pengertian komunikasi itu sendiri, Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah prilaku orang lain1.
Dengan seiring zaman perkembangan komunikasi sangat pesat dan cepat sehingga banyak dijumpai bidang komunikasi. Salah satunya adalah bidang komunikasi yang menyangkut kehidupan sosial adalah komunikasi organisasi atau manajemen publik relation atau humas yang merupakan sebagai bentuk perkembangan komunikasi.
B.  RumusanMasalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka dapat di buat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Apa Pengertian Teknik Komunikasi Informatif ?
2.    Apa Pengertian Teknik Komunikasi Instruktif ?
3.    Apa Pengertian Teknik Komunikasi Persuasif ?
4.    Apa Pengertian Teknik Komunikasi Dialogis ?
C.  Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui Pengertian  Teknik Komunikasi Informatif
2.    Mengetahui Pengertian Teknik Komunikasi Instruktif
3.    Mengetahui Pengertian Teknik Komunikasi Persuasif
4.    Mengetahui Pengertian Teknik Komunikasi Dialogis











BAB II
PEMBAHASAN
A.  Teknik Komunikasi Informatif
Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu communicates yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya communis yang bermakna umum atau bersama-sama. Dengan demikian komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus bahasa), menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan (Marhaeni Fajar, 2009:31).
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi banyak melalui perkembangan. Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi.
Problem komunikasi biasanya merupakan suatu gejala bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Problem komunikasi menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam. Hambatan komunikasi ada yang berasal dari pengirim (komunikator), transmisi, dan penerima.
Marhaeni Fajar (2009:62) menagatakan bahwa hambatan dalam komunikasi antara lain :
1. Hambatan dari Proses Komunikasi
2. Hambatan Fisik
3. Hambatan Semantik
4. Hambatan Psikologis
Teknik komunikasi informatif adalah suatu teknik penyampaian pesan kepada seseorang atau sejumlah orang tentang hal-hal baru yang diketahuinya. Teknik ini berdampak kognitif pasalnya komunikan hanya mengetahui saja. Seperti halnya dalam penyampaian berita dalam media cetak maupun elektronik pada teknik informatif ini berlaku komunikasi satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum, medianya menimbulkan keserempakan serta komunikannya heterogen. Biasanya teknik informatif yang digunakan oleh media bersifat asosiasi yaitu dengan cara menumpangkan penyajian pesan pada objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak.
Ciri khas pesan informatif yakni sebagai berikut :
1. Berdasarkan fakta,
2. Tidak mengada-ada,
3. Jelas dan to the point,
4. Terperinci,
5. Pesan ditijukan untuk khalayak banyak untuk perluasan wawasan

B.  Teknik Komunikasi Informatif

Dalam Webster’s Thrid new International Dictionary of the English Language mencantumkan kata instructional (dari kata to instruct) dengan arti memberikan pengetahuan dalam berbagai seni atau spesialisasi tertentu atau dapat berarti pula “mendidik bidang pengetahuan tertentu” (Yusup, 1989:18). Pengertian komunikasi instruksional lainnya dikemukakan oleh Lashbrook dan Wheeless, (dalam Nimmo, 1979:525), “Komunikasi instruksional sebagai studi komunikasi yang terdiri dari berbagai variabel seperti strategi, proses, teknologi dan atau suatu sistem yang berhubungan dengan formal dan penguasaan materi serta modifikasi hasil belajar (the study of communication variables, strategies, technologies, and or system asa relate to formal instrruction and acquisition and modificaton of learning outcomes).
            Selanjutnya Yusup (1989:22) menjelaskan bahwa komunikasi dalam sistem
instruksional ini kedudukannya dikembangkan kepada fungsi asalnya, sebagai alat
untuk mengubah perilaku sasaran yaitu peserta didik. Proses komunikasi diciptakan
secara wajar, akrab, dan terbuka dengan ditunjang faktor-faktor pendukung lainnya,
baik secara sarana maupun fasilitas lain dengan tujuan supaya mempunyai efek perubahan perilaku pada pihak sasaran.

C.  Teknik Komunikasi Persuasif.
Kenneth E. Anderson (1972:218), menyatakan bahwa komunikasi persuasif merupakan proses komunikasi antar individu. Komunikasi tersebut terjadi di mana komunikator mengunakan simbol-simbol untuk mempengaruhi pikiran si penerima sebagai dengan sendirinya, komunikator dapat merubah tingkah laku dan perbuatan audiens.
Lain halnya dalam buku yang ‘Komunikasi Antarmanusia’ yang dijelaskan oleh De Vito. De Vito menyatakan bahwa komunikasi persuasif merupakan komunikasi bertujuan untuk menengahkan pembicaraan yang sifatnya memperkuat. Kemudian, memberikan ilustrasi dan menyodorkan informasi kepada khalayak. Akan tetapi, tujuan pokoknya adalah menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat dan himbauan motivasional harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya. Dari penjelasan tersebut, De Vito mengemukakan terdapat dua macam tujuan atau tindakan yang ingin dicapai dalam melakukan komunikasi persuasif. Tujuan tersebut dapat berupa untuk mengubah sikap atau perilaku receiver atau untuk memotivasi perilaku receiver
Terdapat beberapa bentuk komunikasi persuasif, diantaranya:
1.    Iklan, Di dalam iklan, komunikasi persuasfi sering kali komunikasi jenis ini dimanfaatkan sebagai bentuk kegiatan pemasran. Karena, iklan sendiri merupakan bagian dari jenis promosi. Sehingga, iklan merupakan bagian kecil dari aktivitas promosi yang lebih luas. Iklan inilah yang menggunakan komunikasi persuasif sebagai bahasa mengajak para calon pelanggan untuk menggunakan produknya.
2.    Dakwah, Dakwah merupakan aktivitas yang bersifat menyerukan seperti layaknya orasi namun sifatnya mengajak orang-orang untuk berjalan ke jalan yang benar. Sehingga, aktivitas ini memerlukan bahasa persuasif yang dapat membuat orang yang mendengar pesan tersebut menjadi ikut pengaruh dalam bahasa dan kata-kata yang disampaikan. Aktivtas inilah yang kerap kali dilupakan kalau menggunakan persuasif tapi bukan dogmatis.
3.    Pamflet, Pamflet merupakan bentuk komunikasi persuasif secara verbal yang berbentuk tulisan. Bentuk ini sebenarnya masuk ke dalam kategori iklan. Namun, pada umumnya di jaman sekarang menjadi paradigma dalam bentuk audio visual. Di dalam pamflet pastinya berunsur iklan yang bersifat mengajak, sehingga pamflet merupakan salah satu bentuk komunikasi persuasif.
Segala sesuatu pasti ada sebab-musababnya. Sama halnya komunikasi persuasif yang memiliki penyebabnya. Penyebabnya ini yang dinamakan sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi. Komunikasi persuasif yang berhasil diterapkan, pasti memiliki beberapa faktor. Dan faktor-faktor itu di antaranya :
1.    Seorang komunikator yang mempunyai kredibilitas tinggi merupakan seorang komunikator yang mempunyai pengetahuan tentang apa yang disampaikannya. Sehingga pesan akan tersampaikan secara jelas dan teratur.
2.    Pesan haruslah masuk akal agar dapat diterima oleh seorang komunikan yang sebenarnya belum dipahami sama sekali olehnya.
3.    Pengaruh lingkungan pun juga dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya kegiatan komunikasi persuasfi ini. Karena, pengaruh lingkungan akan memberikan atmosfir yang mana atmosfir tersebut dapat mempengaruhi pola pikir seseorang, yaitu seorang komunikan.
4.    Pengertian dan kesinambungan suatu pesan. Itu sebabnya, pesan harus masuk di akal atau logika yang benar.
Segala sesuatu, pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Tujuan inilah nantinya yang digunakan sebagai target suatu kegiatan. Sehingga terbentuklah perencanaan untuk menuju tujuan tersebut. Sebenarnya, komunikasi persuasif ini merupakan bentuk teknik dalam berkomunikasi. Sehingga, tujuan adanya komunikasi persuasif ini di antaranya :
·       Perubahan sikap (attitude change), komunikasi persuasif ini diharapkan dapat mengubah pola pikir yang mana pola pikir ini membuat komunikan mengubah sikapnya terhadap pesan apa yang diterimanya.
·       Perubahan pendapat (opinion change), seorang komunikan pastinya memiliki pendapat atau anggapan yang berbeda dari seorang komunikator. Sehingga, perlu adanya komunikasi persuasif ini sebagai alat mengubahnya pola pikir komunikan yang membuat komunikan ini mengikuti pendapat atau anggapan yang disampaikan oleh seorang komunikator. Baca
·       Perubahan perilaku (behavior change), perubahan sikap ini sebenarnya masuk ke dalam kategori perubahan sikap. Namun, perilaku ini merupakan suatu dampak dari sikap. Ketika sikap berubah, maka perilaku pada seseorang atau komunikan pun juga ikut berubah mengikuti pola pikir dari pesan yang ia terima.
·       Perubahan sosial (sosial change). Perubahan sosial inilah yang merupakan salah satu dampak dari adanya bahasa yang persuasif. Komunikator yang berbahasa persuasif akan membawa perubahan dalam lingkungan masyarakat, pola pikir, hingga perilaku masayarakat. Hal ini dapat ditemukan pada seorang Lurah yang menyampaikan informasi persuasif agar masyarakat desa mengikuti program pemerintah. Dengan adanya bahasa yang persuasif yang bersifat mengajak ini, dapat mampu mengubah pola pikir masyarakat desa untuk mengikuti program pemerintah yang disampaikan seorang Lurah sebagai komunikator.
D.  Pengertian Komunikasi Dialogis
Komunikasi dialogis adalah komunikasi dua arah sehingga antar komunikator dan komunikan melakukan saling tukar informasi dan respon sehingga isi/materi/substansi yang dibicarakan saling dipahami. Pada pengertian lain disebutkan bahwa komunikasi verbal yang terjadi antara dua pihak (pembicara dan pendengar) secara timbal balik. Jadi dalam komunikasi dialogis, pembicara harus menyampaikan sesuatu untuk dipahami oleh pendengar sebagaimana dimaksudkan oleh pembicara artinya tidak biasa atau tidak ada perbedaan makna yang dimaksud oleh komunikator dan makna yang diterima oleh komunikan. Untuk itu keaktifan komunikan dalam mendengarkan  dan usaha memahami isi pembicaraan sangat  diperlukan. Bila diperlukan komunikan perlu (seolah-olah) memposisikan diri sebagai komunikator agar lebih mudah memahami apa yang dibicarakan.
Namun demikian, untuk mencapai komunikasi dialogis seperti di atas, beberapa kendala yang menghambat komunikasi dialogis yaitu :
1. Perlindungan (protectiveness), menjaga informasi tertentu yang mengandung risiko bila disampaikan
2. Pertahanan (defensiveness), seseorang yang diajak bicara pun bisa jadi tidak mau menerima informasi (menolak untuk mendengar informasi yang disampaikan)
3. Kecenderungan untuk meng-evaluasi (tendency to evaluate), seseorang yang menerima informasi cenderung untuk me lakukan evaluasi atas informasi yang diperolehnya
4. Tidak cocok dengan harapan (mismatched expections), pikiran manusia seringkali hanya membatasi informasi yang cocok dengan harapannya
5. Waktu sempit (insufficient time), keterbatasan waktu untuk menyampaikan informasi secara menyeluruh
Anda sebagai seorang fasilitator pada kegiatan pemberdayaan masyarakat, beberapa kendala tersebut di atas akan sangat nyata dirasakan ketika mendampingi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Untuk itu, beberapa strategi yang harus dikuasai untuk mengembangkan komunikasi dialogis yaitu :
a. Meningkatkan keterampilan mendengarkan.
b. Membangun keterbukaan.
c. Memberikan kesempatan komunikasi empat mata.
d.Membangun komunikasi yang menyentuh perasaan : menyangkut hal yang bersifat pribadi, menyampaikan secara berulang-ulang, memberikan contoh konkrit.
Proses komunikasi tidak melulu terjadi searah saja tetapi hampir semua jenis komunikasi berjalan secara dialogis. Dimana komunikasi dialogis dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan antarpersonal (antara satu orang dengan orang lain) yang menunjukkan adanya interaksi. Komunikasi yang berlangsung secara dialogis selalu lebih baik daripada monologis. Mereka yang terlibat dalam komunikasi dialogis ini berfungsi ganda, artinya ada yang menjadi pembicara dan pendengar secara bergantian sehinga teknik yang digunakan adalah  teknik dialogis. Seperti contoh kita biasa menggeleng-gelengkan kepala ketika  menyatakan suatu ketidaksetujuan, atau ketika kita menggunakan tangan untuk menunjukkan suatu arah jalan bila ada orang yang bertanya.
Meskipun komunikasi dialogis seringkali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, namun secara praktis dalam kaitan dengan praktek komunikasi seringkali terjadi disharmonisasi sehingga komunikasi berjalan tidak efektif. Komunikasi dialogis yang terjadi bersifat dua arah tentunya memerlukan keahlian supaya komuikasi dapat berjalan dengan efektif.
Komunikasi dialogis memerlukan keterampilan khusus apalagi berhubungan dengan profesionalitas. Kapan komunikasi dialogis harus dilakukan dapat ditinjau dari kondisi berikut:
1.    Apakah anak buah Anda sering datang kepada Anda dan secara nyaman menyampaikan ”unek-unek” mereka?
2.    Apakah Anda dan tim Anda bisa saling menerima kritik tanpa mengambil sikap defensif?
3.    Apakah Anda tahu rasa frustrasi, masalah, keinginan, minat anggota tim Anda?
4.    Apakah Anda sering menanyakan pendapat atau masukan dari anggota tim tentang suatu keputusan yang akan Anda ambil?
5.    Apakah dalam rapat dengan tim, ada kebebasan menyatakan pendapat, memberi usulan dan saran?
Jika sebagian besar jawaban Anda adalah ”tidak”, maka kemungkinan besar Anda perlu membangun komunikasi dua arah. Namun, jika sebaliknya, jawaban Anda kebanyakan adalah ”Ya”, Anda telah memupuk terjadinya komunikasi dua arah, namun tidak ada salahnya untuk menyimak beberapa kendala komunikasi dan usulah strategi komunikasi berikut.
Setelah memahami berbagai kendala yang menghambat terjadinya komunikasi dua arah, kita akan lebih mudah untuk menyusun strategi guna membangun komunikasi dua arah tersebut. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dicoba.
1.    Mendengar
Dalam komunikasi dua arah, ada yang berbicara, dan ada yang mendengar. Yang sering terjadi adalah tiap pihak saling menunggu kesempatan untuk berbicara tanpa meluangkan waktu untuk mendengar apa yang disampaikan pihak lain (karena ia sibuk menyiapkan apa yang akan disampaikan). Seringkali, banyak permasalahan dapat terselesaikan justru bukan karena seseorang menjadi pembicara yang handal, melainkan karena ia bersedia memahami orang lain dengan cara mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan (keluhan, masalah, keinginan, harapan). Informasi yang didengar inilah yang bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah.
2. Terbuka
Untuk mendorong tiap pihak untuk saling terbuka, seorang pimpinan hendaknya tidak menghukum orang yang menyampaikan pendapat, masalah, atau perasaannya. Keterbukaan bisa juga dibuatkan wadahnya, yaitu melalui bulletin board, kotak saran, atau media antarkaryawan. Karyawan yang menyampaikan pendapat atau ide yang bisa dimanfaatkan perusahaan, bisa diberikan hadiah, atau penghargaan. Demikian juga dengan karyawan yang bisa mengidentifikasi atau mengantisipasi masalah serta mengusulkan alternatif pemecahannya.
4.    Menyamakan persepsi.
Komunikasi dua arah sering terhambat karena adanya perbedaan persepsi terhadap suatu masalah. Dengan demikian, dalam berkomunikasi, ada baiknya disampaikan juga latar belakang pemikiran dari ide yang disampaikan, sehingga orang lain juga bisa memiliki persepsi yang sama, berangkat dari persepsi yang sama, atau paling tidak memahami persepsi orang yang menyampaikan informasi tersebut. Jika pemahaman sudah tergalang, maka komunikasi dua arah akan lebih mudah mengalir.
5.    Komunikasi empat mata.
Banyak juga karyawan yang enggan menyampaikan pendapat karena sungkan berbicara di hadapan banyak orang, padahal mungkin saja karyawan tersebut memiliki ide yang brilian. Seorang pimpinan bisa mencoba melakukan komunikasi dua arah terhadap anak buahnya secara regular untuk memahami kebutuhan, ekspektasi, masalah mereka. Dengan komunikasi empat mata, bawahan mungkin saja lebih nyaman menyatakan pendapat atau menyampaikan permasalahan yang ditemuinya di lapangan. Jadi, komunikasi empat mata penting untuk dilakukan dengan lebih sering, tidak hanya ketika melakukan evaluasi kerja tahunan.
Membangun komunikasi dua arah memerlukan keahlian-keahlian, sehingga perlu adanya latihan. Kita dapat memberbanyak latihan dengan mencoba manakah yang efektif. Melalui banyak berlatih dengan mengkombinasi beberapa strategi untuk mencapai komunikasi dua arah dengan lebih mudah, dengan hasil yang lebih baik.
Dalam hubungan dialogis, sikap dan perilaku setiap partisipan komunikasi ditandai oleh kualitas, seperti kebersamaan, keterbukaan hati, kelangsungan, kejujuran, spontanitas, keterusterangan, tidak berpura-pura, niat yang tidak manipulatif, kerukunan, intensitas dan bertanggungjawab.
Thomas Nilsen mengatakan bahwa untuk mencapai komunikasi dialogis yang etis perlu dipupuk sikap-sikap berikut ini:
1.    Penghormatan terhadap seseorang sebagai person tanpa memandang umur, status, atau hubungan dengan pembicara.
2.    Penghormatan terhadap ide, perasaan, maksud, dan integritas orang lain.
3.    Sikap suka memperbolehkan, keobjektifan, dan keterbukaan pikiran, yang mendorong kebebasan berekspresi. Penghormatan terhadap bukti dan pertimbangan yang rasional terhadap berbagai alternatif.
4.    Terlebih dahulu mendengarkan dengan hati-hati bersimpati sebelum menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan.
John Mokay dan William Brown memberi sepuluh kondisi dialog yang dapat digunakan sebagai pedoman etika untuk menentukan sejauh mana sikap-sikap dialogis terungkap dalam transaksi komunikasi: Keterlibatan manusia dari kebutuhan yang dirasakan untuk berkomunikasi.Suasana keterbukaan, kebebasan, dan pertanggungjawaban.Berurusan dengan isu dan ide nyata yang relevan dengan komunikator Apresiasi terhadap perbedaan dan keunikan individual. Penerimaan terhadap ketidaksetujuan dan konflik dengan keinginan untuk menyelesaikannya. Umpan balik yang efektif.Saling menghargai dan diharapkan saling mempercayai. Ketulusan hati dan kejujuran dalam sikap terhadap komunikasi. Sikap yang positif untuk pemahaman dan belajar. Kemauan menerima kesalahan dan membiarkan persuasi.













BAB III
KESIMPULAN

Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu communicates yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya communis yang bermakna umum atau bersama-sama. Dengan demikian komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus bahasa), menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan (Marhaeni Fajar, 2009:31).
Dalam Webster’s Thrid new International Dictionary of the English Language mencantumkan kata instructional (dari kata to instruct) dengan arti memberikan pengetahuan dalam berbagai seni atau spesialisasi tertentu atau dapat berarti pula “mendidik bidang pengetahuan tertentu” (Yusup, 1989:18). Pengertian komunikasi instruksional lainnya dikemukakan oleh Lashbrook dan Wheeless, (dalam Nimmo, 1979:525), “Komunikasi instruksional sebagai studi komunikasi yang terdiri dari berbagai variabel seperti strategi, proses, teknologi dan atau suatu sistem yang berhubungan dengan formal dan penguasaan materi serta modifikasi hasil belajar (the study of communication variables, strategies, technologies, and or system asa relate to formal instrruction and acquisition and modificaton of learning outcomes).
Kenneth E. Anderson (1972:218), menyatakan bahwa komunikasi persuasif merupakan proses komunikasi antar individu. Komunikasi tersebut terjadi di mana komunikator mengunakan simbol-simbol untuk mempengaruhi pikiran si penerima sebagai dengan sendirinya, komunikator dapat merubah tingkah laku dan perbuatan audiens.
Komunikasi dialogis adalah komunikasi dua arah sehingga antar komunikator dan komunikan melakukan saling tukar informasi dan respon sehingga isi/materi/substansi yang dibicarakan saling dipahami.

Daftar pustaka
Efendy, Onong Uchjana. 1999. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Efendy, Onong Uchjana. 2004. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi: Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Yusup, Pawit M. 1989. “Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional”.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
http://digilib.unimed.ac.id/514/1/Komunikasi%20Intruksional.pdf


This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon